Senin, 17 September 2012

Perjalanan ke Beijing - 2


Beijing, Minggu, 19 Agustus 2012

Sarapan pagi mie instant sambil lihat berita prakiraan cuaca hari ini. Perhatikan saja tulisan 北京 (beijing) pada kiri/kanan bawah, channel TV apapun boleh (acara berita pastinya +/- jam 06.30), pasti ada prakiraan cuacanya.

Jam 8 lebih baru kita berangkat. Tujuan Tian An Men. Dari hostel jalan kaki ke subway Zhangzizhonglu +/- 4 menit, enter dari exit C.

Tujuan pertama beli IC card (kalo di Singapore istilahnya Ez-Link). Beli IC Card harus deposit CNY 20, bisa diisi bebas (reload bisa di loket IC Card or di ATM yang tersedia di subway or 7-11), kalo tidak habis bisa direfund – full amount.

Tidak semua tempat menjual IC Card. IC Card dijual terpisah dengan loket yang menjual tiket subway. Karena di subway Zhangzizhonglu tidak menjual IC Card jadi saya naik subway menuju Tiananmen, beli tiket biasa di loket CNY 2.

Satu hal yang saya kagumi, juga saya sebal (kalo lagi cape), naik MRT dimanapun di Beijing kalo masuk harus scan tas – allstation, seperti di airport. Ada petugasnya (biasanya cewek) yang berjaga dimesin scanner.
Subway Zhangzizhonglu tidak begitu ramai, saya suka subway ditempat ini, terkesan tidak diburu buru, or antri panjang.
Tapi begitu saya get off di Tiananmen station – woowww....lautan manusia sudah mulai terasa. Tapi yah, biasalah dimana mana kalo kereta baru nyampe pasti pada banyak orang keluar yang rebutan naik keatas.

Sebelum keluar dari stasiun saya beli  IC Card, itupun setelah akhirnya dapat petunjuk dari pak polisi, kebetulan ada polisi yang lagi jaga (3 orang). Tanya sama petugas subway cuma dikasih tunjuk tangan aja, ga ada penjelasannya, jalan lurus or belok kiri or kanan, ga pake senyum lagi ngomongnya. Jadi keder deh yang tanya, kesannya ga ramah. Or maybe cape kali yah, ngejawab pertanyaan orang orang, or dah pegel liat orang banyak.
Beda banget sama petugas subway dinegara manapun yang saya kunjungi. Apalagi di Seoul, diantar sampai tempat tujuan sama petugasnya, pake senyum ramah pula.

Harga IC Card CNY 20, saya isi CNY 20 total bayar CNY 40, buat 3 hari. IC Card - bisa buat naik bis and subway, mungkin bisa dipake buat beli di 7-11 (3 hari di Beijing cuma 3 kali liat counter 7-11, bener bener tuh negara tidak membiarkan merk luar masuk). Didalam stasiun subway Beijing sama sekali tidak ada counter yang berjualan disana.

By the way hari ini hari minggu lho... tapi subway tetep rame, sesak, ga sampe jubel jubel – tapi kudu antri juga.
Disini ga bisa ngalah, or mo nyari posisi enak, bakalan ga kedapetan naik kereta. Tapi masih lumayan sopan, yang keluar diduluin, yang naik belakangan. Temen saya sudah kasih warning, kalo naik subway jangan ngalah. Mungkin karena bukan office hour, hari Minggu, jadi kebayang deh kalo hari efektif kerja....ampun dah, hindari aja....mumet...banyak orang, and katanya orang Beijing kalo pagi ga mandi.
Berhubung lagi pilek jadi hidung mampet, cuma kate temen yang hidungnya normal, kayaknya emang bener ga mandi.

Keluar dari Subway bingung, arah ke mana yah Tiananmennya?
Banyak orang – tidak bisa dibedakan mana yang turis, mana yang orang lokal, full manusia. Bingung cari papan petunjuk arah, tapi ga ada. Tidak tampak officer yang bisa ditanyai. Akhirnya ikut orang orang aja.

Ternyata – saya sudah di lapangan Tiananmen, tapi saya ga tau hehehehe..... Karena semua orang pada turun tangga – saya ikutan aja. Diluar negri , negara manapun, biasanya di jalan protokol tidak boleh menyebrang di jalan. Disediakan terowongan bukan terowongan, tapi jalan lebar dibawah buat ke sebrang.

Disini ada 1 orang polisi muda, salut saya sama dia, orang segitu banyaknya diterowongan itu tetep berdiri tegak sambil mengawasi orang orang. Sudah terbiasa mungkin. Saya sudah ga tahan, kudu cepet cepet keluar dari tempat itu, rasa panas kota Beijing dicampur udara yang tidak fresh membuat saya sudah kegerahan. Diujung tangga terlihat beberapa pedagang menawarkan asesoris, gantungan kunci (tapi ga beber dagangan, dipegang pake tangan).

Orang luar negri setau saya, jarang berkunjung ke mall. Kalo pas ada hari libur mereka main ke taman or mengunjungi tempat wisata. Rata rata penumpang subway, keluarga yang akan piknik or sekedar mengajak keluarganya jalan jalan.

Kacau sekali keadaan disini. Pintu masuk menuju ke Forbidden city penuh dengan orang orang. Banyak rombongan tur dari negara Asia. Belum lagi ditambah penduduk lokal yang mengunjungi istana, mungkin ada lima ratus orang lebih disana.

Saya sama sekali tidak melihat gedung or monumen Tiananmen, sudah penuh orang jadi bingung, mau fotopun berebut, orang orang (apalagi orang lokal) ga pake liat kiri kanan kalo lewat, langsung aja jalan lempeng, padahal kita sudah pasang pose mo foto. Kalo yang turis, lebih sadar diri mereka akan menunggu selesai foto baru lewat. Itulah satu satunya cara membedakan turis dan orang lokal.

Orang lokal kalo ngomong kenceng banget, pake teriak teriak. Mereka ga akan sungkan sungkan memarahi or bentak bentak anaknya didepan umum, cenderung kasar sih, mungkin begitu kebiasaan orang sana. Maka ga heran mau tua or muda ga ada bedanya, sama semua pada kasar, ga sabaran. Lha wong dari kecil didikannya dah kayak gitu.

Antri masuk ke Forbidden city lewat dibawah foto Mao Zhi Dong (pimpinan kebanggaan warga Cina).
Dari tur kemarin saya dapat 1 pelajaran, kalo menurut legenda bangsa Cina, dahulu kala naga mempunyai 9 ekor anak. Anak yang terakhir Phoenix (bukan burung), anak itu makan logam, bisa masuk tidak pernah keluar. Patung anak naga yan terakhir ini yang sering diburu oleh orang orang.
Dan disetiap atap bangunan kuno di Cina selalu ada ukiran anak naga, tapi yang berjumlah 9 ekor, cuma ada Gate masuk ke Forbidden City, mungkin di Yonghe gong (Lama Temple) juga, saya lupa.
Atap dengan 9 ekor anak Naga
Atap dengan 5 ekor anak Naga

Dari semua negara yang pernah saya kunjungi, Cina adalah negara yang aneh. Tidak pernah ada brosur tempat wisata, dimanapun. Yang ada malah penduduk lokal yang menjual peta, semua yang bisa dijual, dijual – tidak ada yang gratis disini. Omo, lebih parah dari Indonesia ternyata... Untung saya ngeprint peta ala kadar tentang istana ini, kalo ga tambah buta ga tau lokasi.
Tiket 1 lembar untuk 2 orang

Pertama kali antri di loket beli tiket masuk, CNY 60. Antrinya panjaaang banget dan hari ini matahari benar benar terik. 1 orang bisa membeli tiket sampai 20 lembar. Kebayang deh pemasukan istana ini 1 hari, kalo pengunjungnya ada 2000 orang, sehari bisa CNY 120.000 (180 juta rupiah). Itu kalo pengunjungnya 2000 orang, kalo lebih....., makmur dah.... (ini baru 1 lokasi object wisata).
Dan disini ada beberapa pedagang jual minuman and snack, yang pasti harganya mahal. Saya beli roti sobek CNY 7.
Saran saya bawa bekal makanan dan minuman kalo mo kesini.

Detail Forbidden City :
Outer Court:
1) Meridian Gate (Wumen Gate)
2) Hall of Martial Valor (Wuyin Hall)
3) Gate of Supreme Harmony (Taihe Gate)
4) Hall of Supreme Harmony (Taihe Hall)
5) Hall of Central Harmony (Zhonghe Hall)
6) Hall of Preserving Harmony (Baohe Hall)

Inner Court:
7) Gate of Heavenly Purity (Qianqing Gate)
8) Palace of Heavenly Purity (Qianqing Palace)
9) Hall of Union (Jiaotai Hall)
10) Palace of Earthly Tranquility (Kunning Palace)
11) Gate of Earthly Tranquility (Kunning Gate)
12) Imperial Garden
13) Hall of Imperial Peace (Qinan Hall)

West Palaces:
14) Palace of Gathered Elegance (Chuxiu Palace).
15) Palace of Universal Happiness (Xianfu Palace)
16) Palace of External Spring (Changchun Palace).
17) Palace of Blessings to Mother Earth (Yikun Palace).
18) Palace of Eternal Longevity (Yongshou Palace)
19) Hall of Great Supremacy (Taiji Hall).
20) Hall of Mental Cultivation (Yangxin Hall).

East Palaces:
21) Hall for Abstinence (Zhai Palace)
22) Hall of Benevolence (Jingren Palace).
23) Hall of Celestial Favor (Chengqian Palace)
24) Hall of Quintessence (Zhongcui Palace).
25) Hall of Justice (Jingyang Palace).
26) Hall of Eternal Harmony (Yonghe Palace)
27) Hall of Prolonged Happiness (Yangxi Palace)
28) Hall of Ancestral Worship (Fengxian Hall)

Far East Palaces:
29) Nine-Dragon Screen.
30) Gate of Peace and Longevity (Ningshou Gate)
31) Hall of the Norms of Government (Huangji Hall).
32) Palace of Peace and Longevity (Ningshou Palace).
Garden of the Palace of Peace and Longevity (Ning Shou Gong Garden).
- Pavilion of Bestowing Wine
- Studio of Ancient Glory
Pavilion of Cheerful Melodies..
33) Hall of Character Cultivation (Yang Xing Dian).
34) Hall of Joyful Longevity (Leshou Hall).
35) Hall of Harmony (Yihe House).
36) The Well of Concubine Zhen (Zhenfei Well).
37) Gate of Divine Prowess (Shenwu Gate).

Masuk ke Gyeongbokgung Palace di Seoul udah males, dibandingkan dengan Forbidden City, Gyeongbokgung ga ada 1/4nya. Forbidden city Guuueeddeeee bangeett....

Forbidden City, persis seperti yang dilihat di film film. Saya malas naik keatas lihat detail isi masing masing istana, karena kurang lebih isinya pasti mirip seperti yang saya lihat di Gyeongbokgung. Kalo mau naik keatas, harus jalan melalui jalan ditengah (panas banget) plus naik tangga – gedenya kayak anak tangga di Borobudur, maklum bangunan kuno. And harus berjubel jubel antri bareng orang banyak buat liat isinya. Biasanya yang naik itu rombongan tur. Yang lain jalan lewat samping, menghindari matahari, lewat tempat yang lebih teduh, termasuk kita salah satunya.

Padahal saya berangkat +/- 08.30 naik subwaynya. Tapi saya baru menginjakkan kaki di Forbbidden city jam setengah 12 siang. Lokasi sih ga jauh dari hostel, yang bikin lama nyari IC Card, antri tiket, antri masuk, plus clingak clinguk bingung ga ada petunjuk arah, and jalan kaki (soalnya tempatnya luas bin guedee).
Mo tau detail Forbidden City bisa liat disini : http://www.kinabaloo.com/fcf.html

Gedung disamping disepanjang istana - istilah saya sendiri - banyak museum mini, yang memajang barang barang kuno. 1 buiding memajang 1 topik, alat perang, perhiasan, karya sastra, dll.
Saya tidak masuk ke seluruh tempat, hanya beberapa saja.

Disetiap perbatasan antara bagian istana luar dan dalam ada pelataran mini, banyak turis yang beristirahat disana. Selain istirahat karena cape jalan, juga karena panas terik. Mengunjungi Forbidden palace, waktu paling tepat musim gugur or musim semi menurut saya, tidak begitu panas.

Kami hanya jalan saja menuju ke arah utara. Menyusuri pinggir istana, kita sendiri  tidak tau sudah berjalan sampai diistana bagian mana, papan petunjuk arah sedikit, dan tidak ada peta sama sekali. Tidak ada petugas yang bisa ditanyai.

Sampai hampir ujung istana terdapat ruangan ruangan kecil, didalamnya ada interior kuno tempat duduk dan meja (seperti difilm kungfu) - ruangan ini tidak boleh masuk, kita cuma bisa mengintip dari jendela, mungkin karena perabotnya asli.
Dibelakangnya terdapat taman dan pavilion yang cantik dan ada pohon yang usianya sudah 200 tahun lebih. Tapi sangking banyaknya orang, taman itu yang seharusnya indah, teduh, jadi ga ada kesannya.

Kira kira jam setengah 2 siang lebih kita keluar dari Forbidden Palace, exit melalui pintu sebelah utara, jadi kita tidak kembali ke tempat semula (Lapangan Tiananmen).

Didepan exit ada Jingshan park, tinggal menyebrang saja sudah nyampe, tapi kita tidak mengunjunginya.
Dari sini kita naik bis no 109 (tidak usah menyebrang, bus stop disebelah kiri dari pintu exit istana) – naik 1 stop ke Beihai Park.

Cara naik bis, perhatikan tanda dipintu bis naik dan turunnya. Karena ada 2 tipe bis. Bis dengan 2 pintu, depan dan tengah serta tram dengan 3 pintu, depan, tengah , belakang. IC Card ditap waktu pertama kali naik bis (sama seperti di Singapore).

Pemberhentian pertama kami turun, lokasi penurunan didepan loket tiket, harga tiket masuk CNY 20.
Disini lebih teduh, sepi, dibandingkan dengan Forbidden City, saya lebih suka suasana di Beihai. Disini saya tidak berjumpa sama sekali dengan rombongan tur, menyenangkan sekali, jadi tidak padat.

Sama seperti Forbidden palace tidak ada brosur lokasi, hanya saja didepan ada papan (seperti papan pengumuman) denah Beihai.
Berhubung saya sudah lihat diinternet berkali kali peta Beihai, jadi saya tidak begitu tertarik melihatnya. Kami berjalan menyusuri jembatan Yong An dengan view bunga teratai and pohon willow sepanjang danau….cantik sekali…. I like it.

Karena hari ini hari Minggu, banyak penduduk lokal yang berkunjung menghabiskan waktu, jalan jalan ditaman or sekedar duduk duduk.
Tujuan pertama Toilet. Saya tidak berani pipis di Forbbiden Palace, lihat orang segitu banyaknya aja, saya sudah gerah and males, apalagi toiletnya (pengalaman hari pertama kemarin di Badaling).

Yah, sebersih bersihnya toilet umum disana, masih ada kecium sedikit bau “parfum khasnya toilet”. Disini toiletnya tidak antri, tapi tetep cari toilet yang layak pakai, and bersih, beraroma “parfum” dikit ga pa pa, bisa tahan napas.

Karena sudah jam 2 kami mencari tempat makan dipinggir danau Beihai, kaki sudah lumayan gempor karena di Forbidden City cuma duduk 10 menit aja.
Kami pilih restaurant dipinggir danau. Harga menu bervariasi paling murah CNY 15.

Saya pilih menu noddle, harga CNY 13, but not tasty at all, rasanya seperti makan mie pake minyak wijen plus kacang dihaluskan (kayak gado gado) tapi ada campuran, entah apa  itu, rasanya aneh. Saya sudah pake rumput laut, sambal goreng kentang, plus sambel botol (semuanya bawa dari Indo) tetep aja berasa aneh, alhasil tidak bisa menghabiskan semuanya. Daripada perut jadi error, perjalanan masih panjang.

Sehabis makan, kita lanjut berjalan menyusuri pinggir danau. Disini ada beberapa penjual snack, counter foto dengan kostum kerajaan.
Dari hari pertama saya sudah pengen mencoba ice cream, jadi kita beli disalah satu toko. Saya coba rasa jeruk – ga tau merk apa CNY 4 (mahal), pengalaman saya di Kuala Lumpur, yang waktu itu terik sekali, bisa menghilangkan haus and segar karena rasa jeruk.

But you know what, begitu icenya habis, saya langsung batuk. Dan batuknya ga ilang ilang sampe malem. So, jangan pernah beli ice di Cina.

Kami berjalan, seharusnya ke  White Pagoda, ada 1 temple ujungnya berwarna putih. Tapi kami sudah lupa itinerary, sangking luasnya tempat yang harus dijalani, jadi kami jalan menyusuri danau saja. Berjalan sampai ke Boat penyebrangan, naik boat one way CNY 10, PP CNY 15. Kita beli one way.
Di sini banyak yang naik perahu bebek, keliling danau. Tidak terlihat orang naik sepeda.

Perahu tidak antri seperti waktu saya naik perahu di Summer Palace, perahu menyebrang tidak sampai 10 menit. Kami diturunkan di Five Dragon Pavillion. Gambaran saya pavillion yang ada patung naga, or sesuatu yang berbau naga. Ternyata hanya pavillion biasa (mirip seperti gazebo, tapi besar, bisa menampung 30 orang lebih didalamnya.

Didalam setiap pavillion terdapat orang tua setengah baya (ce/co) sedang berlatih menari/berdansa or ada yang berlatih menyanyi. Banyak juga orang tua setengah baya yang berjalan jalan dengan teman seumuran, atau sekedar bermain catur cina.

Kami berjalan menuju ke arah building yang terlihat, setiap ada building yang bisa kami masuki, kami masuk. Disini suasana teduh, tempat yang cocok buat relaksasi. Kami berjalan sampai jam 5 lima sore, kemudian kita keluar melalui north exit menuju ke Shichahai.

Dari Exit kami menyebrang ke sebrang jalan. Bingung juga harus jalan ke arah yang mana. Tidak ada papan petunjuk arah. Kami hanya mengikuti rombongan tu turis, kami berjalan sampai kelihatan danau (+/- 7 menit), of course kudu bawa map juga, kalo ga bisa nyasar.

Disini kami cari tempat persewaan sepeda. Banyak sekali orang yang menyewakan sepeda, tapi kami terus berjalan sampai terlihat danau Shichahai, barulah kami menyewa sepeda disana. Disalah satu toko, harga CNY 10/jam, dan harus menitipkan pasport. Disini kami naik sepeda menyusuri danau.

Tidak bisa masuk ke mana mana, karena tempat object wisata disekeliling Shichahai tutup jam 5 sore. Jadi yah, hanya menikmati hari, bersepeda santai. Memasuki Yanda Xiejie, tempat pusat oleh oleh disana, tapi tidak ada yang bisa kami beli. Saya tidak tertarik dengan barang barangnya, selain tidak murah, barang barang disana semuanya persis seperti yang ada di Indonesia, jadi ngapain beli jauh jauh. Bahkan di Indo harganya lebih murah.

So menikmati hari saja. Kami lupa kalo bisa mengunjungi Drum Tower dan Bell Tower serta Hutong (perkampungan kuno Cina). Hanya berpanduan pada map yang kami miliki kami mengitari Shichahai.
Shichai yang saya lihat di Running Man tidak sama dengan yang aslinya, memang orang Korea pintar mengambil angel buat syuting.
DiShichahai banyak jajanan kuno orang Cina, gula gula, minuman khas Cina.

Sampai jam setengah 7 kami mengembalikan sepeda (kondisi langit masih terang benderang). Karena sewanya 1 setengah jam, kami dihitung 2 jam, total CNY 20. Saya beli kacang, kwaci, manisan khas Cina disini (beli saja disini, jauh lebih murah dari airport dan rasanya enak).

Saya bertanya arah menuju ke subway station dengan pemilik toko, yang ternyata harus naik bis no 111, 1 stop saja, stop di Yong An Li subway station.

Next destination, Beijing Railway Station, beli tiket kereta super cepat Shanghai – Suzhou (PP), Shanghai – Hangzhou, karena kami takut kehabisan tiket, jadi kami beli di Beijing.

Sampai di Railway station, berjalan ke gedung tiket, antri di loket no 16.
Mau lihat schedule train dan biaya bisa lihat di : http://www.chinatrainguide.com/

Ternyata harga tiket lebih murah CNY 3 dari yang kami lihat online. Untuk beli tiket kereta di perlukan pasport, karena diujung bawah kiri akan tercantum no pasport.
Harga Tiket :
Shanghai – Suzhou = CNY 80 (PP)
Shanghai – Hangzhou = CNY 93
Waktu beli tiket juga dapat 2 lembar karcis, saya tidak tau apa itu.

Lalu kami kembali ke Subway station dan naik subway kembali ke hostel. Sebelumnya kami singgah untuk dinner disalah satu depot. Saya order salad buah (saya sudah tidak pengen makan apa apa lagi), harga CNY 13 (mahal). Mahal karena isinya cuma semangka, nanas sama apel, that’s all. But it’s Ok for me.

Porsi makan orang Cina jumbo jumbo, kalo buat saya 1 porsi bisa buat ber dua. And orang sini kalo makan ga cukup cuma 1 porsi, ada cowok, badan sedang sedang aja, tapi makan sampe 3 piring (mie, nasi + entah apa lauknya + 1 porsi sate) itu yang makan cuma 1 orang saja lho. Makanya saya jadi tontonan, dikirain lagi diet ketat, makan cuma buah buahan saja.
Rencana mau mampir ke wall mart (supermarket) ga jadi, sudah tutup, akibat jalan kelamaan nyari tempat makan.

That’s my second day at beijing.

Jumat, 07 September 2012

Perjalanan ke Beijing - 1



Beijing, Sabtu , 18 Agustus 2012

Jam 1, dini hari kita landing di Beijing Capital, karena sudah malam jadi tidak begitu jelas. Beijing Capital mirip dengan LCCT (dari tempat landing pesawat), saya lupa, kita turun tangga or pakai belalai menuju ke ruang imigrasi.

As always langsung ngacir ke toilet dulu. Ke toiletnya ngantri, tapi tertib. Toilet bersih, ga tau apakah karena landing dini hari or memang bersih.

Counter imigrasinya besar, ada 20 counter, tapi untuk international  passanger cuma buka 4 counter. Bayangkan aja pesawat Air Bus Air Asia X, dengan penumpang full, tapi cuma dilayani 4 counter, untuk counter China resident sih ga begitu antri.

Dah gitu, diairport ini tiap 20-30 menit ada pesawat yang landing, tambah panjang dah antrinya. 1 orang antri di imigrasi bisa 3-4 menitan, and harus difoto, plus entah diapain tuh passport lama banget stampnya.
Di counter imigrasi ada pooling pelayanan petugas imigrasi, pengen mencet tombol poor sih, abis lama,  tapi ya udah ga usah cari gara gara ditempat orang.

Tips antri imigrasi di Beijing, begitu pesawat landing, langsung buru buru turun (makanya saya heran sama cewek Malay sebelah koq buru buru amat), tujuannya supaya antri imigrasinya ga lama.

Selesai itu langsung foto diwallpaper bergambar Great wall. Antri Imigrasi 1 jam baru kelar. Kirain antri cuma sampai disana, ternyata inilah rasanya datang ke ibu kota negara dengan kepadatan penduduk no 1 di dunia, dimanapaun, apapun harus antri. Antrinya panjaaaang banget.

Turun ke Lantai bawah, menuju ke tempat taxi stand, mahal sih bisa sampai CNY 150 buat sampe ke hostel. Tapi itu menurut kita alternatif paling baik and aman buat ke downtown.
Ingat taxi legal plat B, warna kuning, di arrival floor.

Antri taxinya, alamaaak panjaaaang banget. Ga cuma turis aja yang mo naik taxi, penduduk sipil pun pada berebutan naik taxi. Bisa antri 1 jam lagi nih kalo kayak gini caranya.

Tapi saya sudah siap alternatif ke 2, yaitu naik bis. Saya pede naik bis, soalnya banyak yang naik bis, orang bule plus orang negro aja berani, masa saya yang selalu dikira penduduk lokal ga berani.

Ya udah saya ke loket tiket bis (temen saya saya suruh antri bis), beli tiket bis turun di Beijing Railway Station (北京站 - Běijīng Zhàn), harga CNY 16. Mo naik bis aja juga antri, walaupun sama sama antri panjang, tapi antrian bis lebih cepat daripada antrian taxi, soalnya sekali datang yang naik bisa 30-40 orang.
Bis juga cepat datangnya paling antri 5 menitan. Jangan lupa tanyakan tujuan ke petugas, kalo ga bisa ngomong dicetak aja tulisannya, soalnya bis ada beberapa, turun di beberapa tujuan.

Saya kurang tau, apakah habit penduduk Cina yang asli seperti itu atau tidak. Hanya saja menurut info teman yang sekolah di beijing, kalo penduduk Cina bagian utara – include Beijing, orangnya cenderung tidak ramah, sedangkan penduduk Cina bagian Selatan, Guangzhou, Shenzhen, etc lebih ramah.
And benar, mereka tidak ramah sama sekali, dan tidak sabaran, bingung juga, no information center yang bisa ditanyai, akhirnya saya malah bertanya kepenumpang bis. Saya tidak begitu mengerti dengan artikulasi mereka, yang kurang jelas bicaranya.

Sebelum naik ke bis, saya tanya sekali lagi dengan petugas, jangan sampe salah naik bis or turun ditempat yang salah dipagi buta, di negri orang. Disini pada ga sabaran baik sopir or penumpangnya, or memang harus cepat cepat, ga boleh lelet. Koper aja, ga tarus dibagasi bis, tapi dibawa naik kedalam bis, ditaruh dikursi penumpang paling depan.

Didalam bis ada rute bis (melalui layar TV), but unfotulatelly in China Alphabeth. Tidak ada sound suara juga (or ada yah, saya sudah lupa), jadi walaupun ngantuk berat saya tetep harus fokus (karena travelling cuma berdua, dan cuma saya yang bisa bahasa mandarin), karena bis stop dibeberapa tempat. Saya lihat dimonitor TV kalo Beijing railways stop terakhir, jadi saya cuma memeperhatikan apakah gedung beijing railway station sudah keliatan (liat dulu diinternet gedungnya, jadi bisa dapat gambaran).

20 menit kemudian sampai di Beijing Railway Station, hanya ada beberapa taxi, kira kira 10 unit, tapi semuanya taxi gelap, walaupun taxi resmi (plat B dan warna dasar kuning). Mereka minta CNY 100 ke tempat penginapan, saya tawar akhirnya ada yang bersedia CNY 40 (mobil pribadi bukan taxi). Saran saya siapkan map, karena kadang kadang sopir tidak tau alamat yang dituju, mungkin karena letak hostel di dalam gang kecil.

Sampai ditempat tujuan sopir minta tips, saya tidak berikan, saya bilang kalo saya sudah kasih banyak, dan saya juga bilang kalo saya tau seharusnya harganya ga segitu (padahal ga tau apa apa).

Jam setengah 3 lebih kami sampai di Xinmao dragon hostel yang sudah kami book jauh jauh hari (lebih dari 6 bulan), harga waktu book CNY 158 dengan hostelworld (private room with bathroom), sampai disana harga sudah CNY 328, selisih harga 2 kali lipat.

Kami dicharge harga per room CNY 160 (DP 10% yang sudah kami bayarkan, dianggap sebagai kompensasi selisih harga kamar). Tidak bisa complain, karena sudah malam, cape, perlu sesegera mungkin istirahat. Jadi kami pasrah saja.

Alamat Hostel :
9 Dragon House (Xinmao Hostel)
No.78, Dongsijiu Alley, Beijing, Dongcheng District
北京鑫茂青年酒店
北京市城区四九条78
Web : http://www.dragonshostel.com/Hostel%20Rooms%20&%20room%20rate.html
Map :


Oh ya, letak hostel didalam gang kecil, mobil boleh masuk diatas jam 23.00.

Xinmao hostel mirip seperti Suk 11 di Bangkok. Tembok boleh dicoret coret, tidak ada elevator, hanya tangga kayu, hostel sampai 4 lantai.
Letak Xinmao hostel di gang kecil, bersebelahan dengan jalan raya daerah Hutong (kota lama Beijing), jadi desain rumahnya rumah kuno, yang tidak berpagar, hanya pintu kayu dengan handle pintu kuno. Persis seperti yang saya lihat di serial drama.

Didepan xinmao hostel tergantung lampion merah besar, itu yang membedakan xinmao hostel dengan rumah penduduk. Didepan xinmao hostel ada depot mini, tapi kami tidak pernah mampir ke depot itu.
Xinmao hostel juga menawarkan tur untuk tamu yang menginap disana, hanya saja harga tur untuk ke Great wall yang ditawarkan lebih mahal CNY 45 dari tur yang saya dapatkan.

Lantai 1 receptionist (open 24 hour), dapur or mini resto/bar, harga menu disini paling murah CNY 20 (expensive), ada beberapa room dilantai 1.
Selama saya menginap, saya jarang sekali berjumpa dengan turis asia, kebanyakan bule yang menginap disini. Ada wifi, no breakfast.

Dengan mata ngantuk, kami naik tangga 3 floor sambil nenteng koper sendiri.
Room Ok, ada TV (semua channel Cina, tidak ada TV kabel, selama saya menginap saya hanya menyalakan TV pagi hari, lihat berita, cuma untuk lihat weatehr forecast). Tempat tidur ok, selimut ok, AC ok, jendela ok, saya tidak pernah tutup jendela dari hari pertama saya datang, tidur dengan jendela terbuka juga, walaupun pake AC, buat sirkulasi udara.

Ada pemasak air dan 2 cangkir, steker sama kayak indo. Di Hostel ini banyak sekali colokan jadi kalo mo pake ga perlu rebutan or antri. Ini 1 hal yang paling saya suka dari hostel ini.

Tersedia 2 handuk, pasta gigi, sikat gigi, shampoo sachet, sabun, shower dan sandal toilet. Toilet standard, bersih. Didepan pintu toilet ada mirror besar dan hanger. Lampu kuning, kurang terang.

Sampe kamar sudah jam 3 pagi, kami akan dijemput pihak tur jam tujuh kurang 15 menit. Jadi kami hanya punya sisa waktu 3 jam buat istirahat.
Setelah pasang alarm. saya langsung baring, tidur sebisa mungkin.
Jam setengah 7 pagi kami turun, setelah jam 6 pagi kami dapat pemberitahuan dari receptionist bahwa tur kami akan menjemput jam 7 kurang, tapi kami harus ke depan, karena mobil dilarang masuk. Setelah mandi, kami ke Huguo Temple snack beli sarapan pagi. Huguo Temple snack ada banyak cabang di kota Beijing.
Letak Huguo temple snack dijalan raya, hanya 2 ruko diujung gang masuk ke Hostel. Jalan ke depan +/- 3 menit.

Huguo Temple Snack (国寺小吃店)
Alamat : 四北大街214(近平安大道)
Ini contoh menunya (tapi dalam bahasa mandarin, liat gambarnya saja) : http://www.dianping.com/shop/2006086

Tempat ini ramai sekali dan menu makanan bervariasi, saya kurang tau nama menu makanannya, kami hanya beli roti dan gorengan saja, harga antara CNY. 3-5. Harga air mineral disini CNY 2.

Rute Tur setengah hari : Great Wall, pabrik, Jade Summer Palace, Pearl market.
Harga CNY 220.

Dengan harga yang sama bisa juga ke Great Wall, pabrik Jade, Ming Tomb (makam raja kuno di Cina), pearl market. Tapi kita ga pengen ke kuburan jadi ke Summer palace.

Cara ke Great wall kalo ga ikut tur  bisa lihat disini: http://www.travelchinaguide.com/cityguides/beijing/greatwall.htm
Ada 2 cara naik bis or naik kereta, sama sama murah, waktu tempuh kurang lebih sama.

Plus minus naik bis dan kereta :
Naik bis.
Plus    
Bisa lihat lihat kota Beijing. Kalo lalin lancar, bisa cepat sampai.
Frekwensi jadwal bis banyak, jadi antri tidak lama.
Minus :   
Kalo macet, ga kalah sama Jakarta, sama sama payah.
Hanya saja disini pengemudi bisnya ga ugal ugalan.
Untuk yang mau naik bis, pilih bis no 919.

Naik Kereta
Plus     : Jadwal terschedul, ga bakalan kena macet.
Minus  : Karena jadwal terbatas, jadi kadang susah matchingin dengan itinerary yang sudah dibuat.
             Kadang kadang karcis sudah sold out.

Tembok Cina ada beberapa yang bisa dimasuki pengunjung, yang paling ramai Badaling, karena ada cable car, sedangkan yang lain harus mendaki sendiri.
Klik di masing masing titik point akan ada rincian penjelasannya.
Kalo mau yang bagus, bisaanya ke Muntiayu.

Oh ya, saya lupa bilang, dari hari pertama saya sampai di Beijing, suasananya berkabut, bukan kabut asap. Pagi, siang, malam tidak pernah saya lihat kota Beijing dalam keadaan cerah tanpa kabut.
Selain itu alasan kenapa kita ikut tur, karena di weatehr forecast mengatakan kalo tgl 18 di Beijing akan hujan, maleskan kalo lagi asik asik trus hujan, bisa bubar deh acaranya. Menurut prakiraan cuaca yang saya lihat di TV pagi ini menginformasikan kalo hari ini bakalan hujan.

Ok, back to our trip.

Kemarin waktu saya book tur, replay email kira kira 30 menit kemudian. Setelah isi data lengkap, kami diberi info nama tur guide dan no HP. Sedangkan pagi hari pihak tur juga akan kontak ke hostel untuk memberitahukan jam penjemputan.

Kami dijemput jam 7 kurang, naik mobil pregio. Didalam sudah ada peserta tur dari Malaysia, sepasang lansia. Nama tur guide kami Sophia, bahasa Inggris lumayan karena kadang ada vocabulary yang arikulasinya salah.
Beruntung karena rombongan kami orang Malay jadi kalo ada yang ga ngerti kami bisa saling bertanya apa yang dimaksud Sophia.
Ternyata cuma kami ber4 saja peserta turnya, tur privat hehehe…

Oleh Sophia rencana tur diganti, kami mengunjungi Summer palace dulu. Karena Beijing berkabut jadi pemandangan Summer palace yang seharusnya bagus, jadi tidak bagus sama sekali.
Saya kurang tau Negara mana yang lagi heboh, yang pasti kali ini saya jarang bertemu dengan peserta tur dari Indonesia (tidak seperti kunjungan saya tahun 2008, rasanya orang Indonesia pada imigrasi ke Cina, ke mana mana pasti ketemu orang Indo), tapi banyak turis asia lain, orang local Cina, Hongkong, Taiwan, Korea.

Jadi rencana menikmati Summer Palace jadi tidak bisa, banyak rombongan tur.

Gate pintu masuk ke Summer Palace tampak kuno sekali, hanya tembok disemen saja.
Masuk kedalam disambut gapura khas Cina, dan kami turun di enterance danau Kunming. Rencana kami naik boat kesebrang, harga boat (PP) CNY 30  (tidak include dalam biaya tur).
Suasana Kabut di Summer Palace

Mungkin kalo kami diturunkan di bagian timur akan terasa beda.
Alasan kami diturunkan disisi ini karena disini tempat yang paling bagus di Summer Palace, dan yang paling banyak dikunjungi wisatawan.
Summer palace luas sekali, kalo mau lihat detailnya bisa lihat di :

Kami naik Dragon boat, boat melewati jembatan 17 Arch bridge yang tidak tampak jelas akibat kabut, pemandangan danau Kunming sama sekali tidak menarik.
Kira kira 10 menit kami sampai disebrang, ke Marble boat.

Satu hal yang saya suka disini, diCina banyak sekali pohon Willow, pohon willownya berjuntai juntai, bagus sekali.
Kami menyusuri Long Koridor, yang menurut info dari Sophia disini tempat favorit Ratu berjalan jalan. Melewati 4 pavilion (melambangkan 4 musim), sayang kondisi berkabut, jadi kurang bagus, yang pasti kalo kesini cuaca cerah dan sepi pengunjung pasti bagus sekali.

Pemandangan yang seperti lukisan
 Disepanjang koridor terdapat lukisan dibagian atasnya, yang semuanya tidak sama. Kami menyusuri koridor sampai Longevity Hall – yang merupakan tempat tinggal Ratu, of course forbidden to enter.
Disini terdapat Tower of Buddhist Incense, tempat ratu bersembahyang. Tapi kami tidak masuk, untuk masuk kedalam harus membayar tiket masuk CNY 10.
Saya agak lupa urutan sembahyangnya, kalo tidak salah lantai 1, lantai Budha Sakyamuni, Lantai 2, Dewi kwan Im, yang lantai 3 saya lupa.

Setelah itu jam sudah menunjukkan pukul 11, kami harus kembali ke danau untuk naik boat menyebrang ke sebrang.
Saya tidak mendapat kesan apa apa dari Summer palace, karena terlalu crowded dan tur guide kami kurang fasih berbahasa Inggris.

Kami naik mobil, ke tujuan selanjutnya pabrik jade (batu giok) Beijing Dragon Land Superior Jade Gallery. Katanya ini merupakan pabrik milik pemerintah dan pabrik paling besar di Beijing. Iya kah? Saya juga tidak tau kebenarannya.

Disini kita diajarkan cara melihat keaslian batu giok. Ada beberapa tes yang harus dilakukan ;
  1. Diterawang dibawah lampu.Batu giok asli, tidak akan ada gelembung udara didalamnya. Bila ada gelembung udara berarti itu ada campuran kaca bukan batu giok.
  2. Giok digores. Giok asli, tidak akan rusak bila digoreskan, karena sifat batu giok yang keras.
  3. Dentingan batu giok asli, tidak rendah (paslu), atau tinggi/nyaring (kaca).
  4. Batu giok asli dingin. Letakkan dilantai dalam beberapa detik pasti akan dingin.
  5. Batu giok asli berat.
Karena saya sudah pernah mengunjungi pabrik giok di Hongkong dulu, dan sudah pernah diajarkan cara mengetes batu yang asli, caranya mirip, jadi saya percaya kalo tempat ini menjual barang asli dengan mutu yang bagus.

Saya beli gelang Giok, dengan diskon 20% dari harga bandrol. Karena tahun 2008 saat mengunjungi Hongkong, harga gelang giok rata rata HKD 2.000. Berdasarkan itu saya melakukan negosiasi untuk mendapatkan potongan harga.

Saya sudah memilih gelang yang bagus tapi sayangnya saya tidak memakainya langsung, setelah dibayar baru saya pakai.
Gelang yang saya pilih, ada garis gores panjang kira kira 2 cm, tapi gelang yang saya pakai tidak bergores. Hal ini baru saya sadari waktu saya sudah kembali ke Indonesia.

Memang gelang yang saya pakai sekarang asli, tapi qualitas gelangnya saya kurang tau apakah sebagus yang saya pilih sebelumnya. Tapi yang pasti ukuran gelang yang saya terima lebih kecil dari gelang yang saya coba.

So, pelajaran membeli Giok di Cina, Jangan percaya dengan penjual, waktu membeli barang langsung dipakai, jangan mau ditaruh didalam kotak dulu. Saran saya pastikan untuk minta diskon diatas 50% dari harga bandrol.

Selesai membeli giok, kami makan siang ditempat itu. Disana ada restaurant yang biasa dikunjungi turis. Menurut teman saya menu makanannya enak, dan merupakan makanan yang paling enak sepanjang perjalanan kami di Cina.
Selesai makan kami menuju ke toilet, bersih sih, tapi ada sedikit aroma khas toilet hehehe….

Setelah itu kami lanjut menuju ke Great wall, yang seharusnya hanya bisa dicapai dalam waktu 30 menit. Tapi entah mengapa hari itu Highway macetnya luar biasa, mirip seperti tol Slipi - Jakarta. Jalan menuju ke Great wall juga macet, banyak penduduk local yang pergi mengunjungi Great Wall. Belum lagi ditambah bis bis pariwisata, tambah macet.

Menurut Sophia bisaanya tidak macet seperti itu dan tidak ada even apa apa di Beijing, hanya jumlah kendaraan yang menuju ke Great wall yang banyak. Jam setengah 5 kami baru sampai di Great wall, itu belum sampai di Badaling, baru di bawah bukit.

Mobil yang masuk kedalam banyak sekali dan luar bisaa macetnya. Saya rasa kalo hari ini saya tidak ikut tur, mungkin perjalanan hari ini ke Great wall kacau balau.
Sampai di Great wall gate masuk sudah tidak ada cable car – sudah tutup, jadi kami harus mendaki naik keatas. Oleh Sophia kami dipilihkan tembok yang paling mudah untuk didaki.

Sebelum naik kami ke toilet, toiletnya wow aroma parfumnya sangat menyengat, jangan lupa pilih toilet yang bersih.

Hanya 2 stop posko saya putuskan untuk menyudahi acara mendaki, karena walaupun saya tetap naik keatas sama saja, hanya tembok, nothing to see, and sangat crowded. Saya tidak suka suasana crowded. Jadi saya putuskan untuk turun.
Kami membeli air minum disini yang harganya 1 botol CNY 5, alamak mahal kali. Tapi ya sudah terpaksa haus..

Kami kembali ke parkir dan minta diturunkan ke Olympic Birds nest stadium. Akan tetapi kami dibawa ke rumah teh dulu dekat sana.
Sampai disana sudah jam 8 malam lebih, karena sudah bawa bekal roti jadi kami tidak lapar.

Dirumah teh kami disuguhkan 4 jenis teh, yang konon teh paling bagus katanya.
Saran saya saat minum teh jangan memberikan komentar apapun, bilang saja tidak biasa minum teh or tidak minum malah lebih bagus and warning, jangan minta tambah lagi.

Selesai mendemontrasikan semua jenis teh, kami ditawarkan untuk membeli the. Yang saya herankan saat kami tidak mau membeli, harga teh diturunkan plus diberi tambahan  produk. Semakin ditolak harga semakin turun, dan nada bicara sudah kasar (agak ngamuk sih). Tapi saya mah cuek bebek, mo marah or ga, ga bakalan beli.

Kami tidak diijinkan keluar, sampai akhirnya peserta tur dari Malaysia beli 1 bungkus teh. Baru kami bisa keluar. Saya membayar uang tur ke Sophia CNY 250 per orang, saya beri tips CNY 30, seharusnya tidak memberi tips juga tidak apa apa, toh pelayanannya juga ga VIP amat.

Kami naik mobil di turunkan ke Olympic Birds nest stadium. Jam sudah pukul 9 malam lebih. Celakanya saya lupa bawa peta, jadi kami agak tersesat, bertanya ke penduduk local, eh bukannya membantu semakin menyesatkan.

Akhirnya saya putuskan untuk masuk kedalam  subway, cari exit B2. Exit B2 merupakan exit menuju ke sarang burung.
Dari exit B2, sudah terlihat stadionnya. Sayang seharusnya bisa bagus, tapi berhubung berkabut, jadi hasil foto kurang memuaskan.
Kesan perjalanan hari pertama saya di Beijing, tidak bagus, karena berkabut.

Jam 10 malam lampu stadion dimatikan, jadi pastikan sampai disana sebelum jam 10 malam. Nih guide bagi yang pengen ke sana : http://www.everytrail.com/guide/the-birds-nest-and-water-cube/map

Kami hanya 10 menit disana, setelah itu kami kembali ke penginapan. Hari ini hari Sabtu, Stadion sangat ramai dengan penduduk local, subway juga padat walaupun sudah jam 10 malam.
Saya beli tiket subway diloket. Beijing masih traditional penjualan tiket subway diloket. Mesin ATM hanya untuk reload IC Card.

Subway di Beijing ke manapun jauh dekat harga CNY 2.
Saya turun di Beijing railway station, tujuan beli tiket kereta api ke Harbin buat lusa.
Jam sudah menunjukkan pukul setengah 11 malam, kami sudah capai, lapar, tapi harus beli tiket kereta.

Suasana railway station didalam sangat berbeda dibandingkan dengan diluar. Waktu saya sampai dari bis airport, bis menurunkan kami diluar stasiun. Didalam stasiun banyak sekali penumpang kereta yang tidur hanya beratapkan langir ditemani barang bawaan mereka. Mungkin mereka orang orang yang tidak mendapatkan tiket.
Yah, suasana kereta kurang lebih sama seperti Indonesia, tapi masih mending stasiun Gambir jauuuhhh…..

Saya tidak menemukan loket tiket, dan tidak ada orang yang berani saya tanyai, karena banyak calo tiket disana. Akhirnya saya bertanya kepada satpam perempuan.
Ternyata dari Subway harus berjalan kearah berlawanan dengan exit subway. Letak loket ada gedung tersendiri diujung.

Loket untuk foreign hanya ada 1 yaitu no 16, tapi sudah tutup, ya sudah saya mengantri diloket local. Tapi tiket kereta ke Harbin untuk tgl 20 sudah sold out, jam berapapun, saya tidak memungkin merubah rute, karena tgl 21 saya harus naik pesawat menuju ke Shanghai.

Ya sudah, pupus sudah harapan meuju ke Harbin. Padahal harbin satu satunya kota yang paling saya ingin kunjungi. Maybe next time kalo ada kesempatan berkunjung ke Cina saya pasti mengunjungi Harbin.
Susah payah menyusun itinerary tidak bisa mewujudkannya. Sedih juga sih.

Tiket kereta api di Cina tidak bisa dibeli online, kalaupun ada, kena charge CNY 150 per tiketnya.

Ada lagi kendala kami untuk pulang ke hostel. Jam 23.00 subway tutup, kami tidak bisa naik subway pulang. Mau naik taxi, antrinya alamak…. Panjang banget, mengalahkan panjang antrian taxi di airport.

Akhirnya kami putuskan untuk naik taxi seperti hari pertama, mahal juga ga apa apa. Sebelumnya kami beli mie instant dulu buat sarapan pagi plus air minum Harga mie Instant CNY 2,5 untuk air minumnya CNY 2.

Taxi pertama tidak mau mengantarkan alasannya dekat, jadi jalan kaki saja. Ya sudah kami percaya jadi kami jalan kaki. Saya bertanya arah kepada orang orang yang menawarkan penginapan didekat railway station, semuanya bilang kalo jauh, dan tidak bisa ditempuh jalan kaki.

Cuma anehnya, jauh ya udah bilang aja jauh ga usah pake muka jutek gitu napa. Emangnya salah ya kalo orang mo jalan kaki. Ga satu orang yang mukanya jutek tapi banyak orang yang kayak gitu, apalagi yang ai ai. Ya udah kita putuskan untuk naik taxi, tapi mata saya melihat ricksaw, ya udah kami naik ricksaw aja. Nego harga CNY 50.

Ya nasib, mahal, tapi ga penting yang penting bisa nyampe penginapan.
Untungnya penarik ricksaw ini masih muda jadi saya bisa tanya tanya (jangan bayangkan narik ricksaw jalan kaki, disini pake sepeda, sepedanya juga pake dynamo jagi goesnya ga cape cape amat).

Saya tanya kenapa Beijing bias berkabut seperti itu? Ternyata cuma kerana ga ujan ujan berhari hari, jadi tidak ada pergantian udara. Dan kejadian seperti itu baru terjadi beberapa hari ini di Beijing, sebelumnya tidak pernah seperti itu.

O..alah…nasib….nasib, prakiraan cuaca bilang hari ini bakal hujan, memang sih hujan di Badaling tapi.

Sampai dipenginapan saya langsung extend 1 hari lagi, saya lupa seharusnya 2 hari. Dan saya dikasih rate CNY 228. saya bilang kalo harga room saya hanya CNY 160. Tapi dia bilang kalo CNY 228 sudah rate paling murah yang bisa dikasih ke saya. Ya udah, daripada pusing pusing pindah, ya saya bayar aja.

That’s all my journey at my first day, yang lain besok besok aja, dah gempor ngetiknya.

LCCT


Akhirnya punya waktu juga buat ngeblog...
Finally my trip to China.

Perjalanan panjangku dengan :
9 hari perjalanan ala backpacker
8 Bulan perencanaan
7 Kota : Kuala Lumpur, Beijing, Shanghai, Suzhou, Hangzhou, Wuzhen, Singapore
6 International Airport: Juanda, LCCT, Beijing Capital, Shanghai Hongaqiao, Hangzhou Xiaoshan, Changi
5 Guest House : Xinmao Dragon, Hostel 161, Blue Mountain, Wuzhen, ABC Hostel
4 Bawaan : Koper sedang, Travel bag, Bagpack, Kantong belanja
3 Maskapai Penerbangan : Air Asia, China Eastern, Jetstar
2 Negara  : Cina, Singapore
1 Visa : Cina

Semuanya dimulai dari LCCT.

LCCT, Jum’at , 17 Agustus 2012

Seharusnya tgl 17 saya sudah bisa sampai di Beijing, tapi karena ada perubahan schedule dari Air Asia, tgl 17 pagi saya baru berangkat dari Surabaya ke LCCT.
Airport Juanda  tampak lenggang, walaupun sudah H-2 dari Hari Raya, syukur deh, jadi ga perlu antri masuk ke airport. Walaupun didalam, as always, counter Air Asia pasti antri, di airport manapun, flight ke manapun (domestic or international).

Counter check in ramai, karena jam flight hampir beberengan dengan flight Cathay ke Hongkong dan Singapore.

Flight pagi jam 08.45, sampai jam LCCT jam 12.45 (waktu Kuala Lumpur), tidak beli bagasi, karena mo irit. Jadi bawa koper sedang aja, plus 1 travel bag yang bisa dilipat, buat belanja belanji hehehe....

Mau turun ke KL tanggung, waktu terbatas, takut kalo macet dijalan, soalnya connecting flight ke Beijing jam 18.25, jadi spelling waktu kita habiskan di LCCT saja.

Karena ga biasa turun dari pesawat bawa koper (buat 9 hari), jadi perjalanan dari pesawat ke ruang imigrasi berasa jauuuh banget.
Kali ini saya tidak sidik jari or difoto kornea mata, mungkin pihak LCCT sudah punya data base yang lama.

Selesai dari imigrasi langsung ke toilet, toilet dekat imigrasi rame, full dengan penumpang yang baru turun. Flight kali ini full, sejauh mata memandang (waktu on the way ke toilet di pesawat, kita duduk di seat no 15) ga ada seat kosong.

Sampai di exit gate langsung nyari trolly. Trolly di gate kedatangan sedikit or hampir ga ada, tapi di gate keberangakatan banyak.
Langsung menuju ke food court Medan Selera, tempat makan buat kaum backpacker di LCCT.
Letaknya dibelakang, dekat shuttle bis, paling ujung, lumayan juga jalan kaki bisa 10 menitan.

Sampai di Medan Selera tidak begitu banyak pengunjung, karena masih bulan puasa. Ada yang cuma duduk duduk saja (mungkin puasa), ada yang kayaknya nunggu connecting flight (ketauan soalnya ga makan, and disampingnya ada trolly plus sejibun koper – agak hiperbola-).
Ruangan ber AC, tempat makan standar, bersih, ada wifi.

Counter di foodcourt tidak begitu banyak (kayaknya ga sampe 10 counter). Menu makanannya asia food, ada counter nasi padang, chinesse food, makanan india, and beverage. Saya cuma bisa makan di Mixed Rice (sama seperti yang ada di Suria KLCC), 1 nasi goreng vegetarian (rasanya asin). Sebelum saya ada bule yang pesen nasgor vege juga harga RM 6.
Air mineral di Medan Selera kalo ga salah RM 2/3.
Menurut teman saya yang pesan menu lain (ga vege) nasinya keras ga enak, sayurnya ga fresh, harga RM 10.

Setelah makan, santai santai, jam setengah tiga kita kembali ke LCCT, alasan mo window shopping, ga perlu check in soalnya sudah check in on line and ga titip bagasi.
Rencana jam 16.30 kita mo turun ke ruang tunggu.

Saya cuma bawa RM 26, sudah dikurangi buat maksi, jadi sisa RM 16.
Akhirnya kita mampir ke salah satu counter coklat, beli coklat – saya lupa namanya -, tapi lumayan enak harga RM 8.9 (buat bekal jalan jalan di Cina).
Sisa duit kita patungan beli dunkin donat – rencana buat breakfast besok pagi.

Tips beli donat, belilah diluar, didepan pintu masuk keberangkatan, jangan beli donat di dalam LCCT – donat diluar lebih fresh, lebih tasty sepertinya, dan lebih banyak pilihan, harga sama.
Saya beli donat di dalam, rasanya donat sudah tidak fresh plus tidak ada pilihan.

Setelah itu masuk ke ruang tunggu, main internet, book tur ke Great wall, karena takut kecapaian kalo pergi sendiri (secara landing dini hari jam 1). Letak Great wall diluar kota and jauh, dari Beijing naik bis bisa +/- 90 menit, belum lagi naik keatas, jadi diputuskan ikut tur supaya bisa numpang tidur enak di dalam mobil and ga perlu mikir.

Jam 18.30 kita naik ke pesawat, board on time, kali ini dapet kursi no 23, sebelah kita ada cewek Malay (+/- 24 tahun) baru datang dari UK, mo main ke tempat temen di Bejing.

Makan malam dipesawat lama banget jam setengah 9 baru keluar, itupun antri, nunggu sampe pramugarinya dateng. Dari laper sampe ga laper lagi. Jam 9 kita dinner on the sky with nasi goreng and air mineral.

Setelah tidur, bangun (jangan lupa bawa bantal tidur), tidur lagi, kira kira jam setengah 12, entah dilangit negara mana, mungkin Hongkong or Taiwan (asumsi terbang 4 jam, bisa landing di Hongkong or Taiwan, or mungkin daratan Cina bagian selatan), karena dibawah terang sekali, banyak lampu warna kuning, kontras dengan langit yang gelap gulita, tapi cantik luar biasa, kerena banyak bintang dilangit.
Jarang sekali saya lihat bintang begitu banyak (terakhir di Jimbaran, Bali – itupun tahun 2002).

Pengen banget motret bintang, tapi apa daya kamera tidak support sama sekali. Sebagus bagusnya kamera ga ada yang lebih bagus dari lensa kornea mata.
Sampai sekarang masih masih ingat dengan bintang bintang dilangit, keren banget.
Ada bintang jatuh 2 kali lagi, jadi sumrigah dah... cepet cepet request permintaan (moga moga bisa terkabul. Amin).

Masih kurang 1 jam dari jam landing, jadi saya usahakan tidur, simpan energi buat perjalanan besok, saya cuma punya waktu max 5 jam buat istirahat.