Selasa, 16 Oktober 2012

Perjalanan ke Shanghai


Beijing – Shanghai, Selasa, 21 Agustus 2012

Pagi ini bangun males malesan, mandi, kembali sarapan mie instant. Hari ini kami pindah ke kota Shanghai by Plane. Ke Shanghai bisa naik kereta – harga CNY 500 keatas, waktu 5 jam. Kalo naik plane 2 jam nyampe.

Banyak sih flight dalam negri di Cina, saya pilih promo yang paling murah CNY 750 (selisih CNY 200 – dibandingkan naik kereta), tapi kami putuskan naik pesawat, supaya waktu yang terbuang tidak banyak, karena masih banyak tempat yang harus dikunjungi.

Web penerbangan dalam negri Cina (langsung web penerbangannya) :
Eastern Airlines           : http://en.ceair.com/

Tapi tidak bisa book untuk orang luar negri. Kalo mau book melalui agen :

Yang saya pakai 9588 dan ctrip. Yang lainnya saya kurang tau. Tapi saya sukses book (book dari Indonesia) dan tidak ada charge biaya tambahan apapun.
Tiket saya print sendiri, setelah selesai payment saya masuk keweb yang diemail, lalu saya masukkan booking number, keluar tiketnya saya print.

Tidak mengerti bahasa mandarian juga bisa print. Gampang aja, masukkan semua kalimatnya ke google translate, gampangkan J.

Kalau mau naik pesawat terbang, saran saya book jauh jauh hari, harga promo 6 bulan sebelum hari H sudah ada. Dari harga yang tertera ada biaya tambahan (saya lupa berapa charge tambahannya).

Jam 9 pagi kita check out, trus kita naik taxi ke Dongzhimen subway station. Karena Airport railway express tersedia disana. Sebelumnya kita mau refund IC Card dulu. Refund IC Card terbatas tempatnya. Tidak disemua tempat bisa refund.

Dari Hostel 161 ke Dongzhimen subway CNY 12. Sampai di Dongzhimen, saya masuk ke dalam stasiun bertanya dimana bisa refund IC Card. Yang ternyata refund IC Card tidak didalam stasiun subway, tapi di dekat stasiun Bis. So saya keluar lagi (untung ga bawa koper, teman saya menunggu diatas dengan koper, soalnya subway disini ga ada elevator, jadi lumayan kalo kudu nenteng koper).

Dari Exit subway, ada gedung besar, yang ternyata stasiun bis. Saya bertanya dimana refund IC Card, yang ternyata diluar gedung stasiun bis. Dari Exit subway langsung belok kiri, tapi saya belok kanan masuk ke dalam gedung.

Loket refund IC Card yang buka hanya 1, dan antri (lumayan panjang, kira kira antrian 10 orang). Sampai didepan loket, ternyata – tidak bisa refund card disini, saya ga tau alasannya kenapa. Padahal seharusnya bisa refund di Dongzhimen, tadi saya juga lihat orang orang refund, tapi saya tidak jelas alasannya (ga ngerti omongannya, kalo ga salah dia ngomong kalo kartu jenis punya saya ga bisa refund disana).

So ya udah, daripada ketinggalan pesawat, saya sudah merelakan sisa uang CNY 30 didalam IC Card. Balik saya info ke teman saya, trus kita masuk ke stasiun subway, cross aja, soalnya airport railwaynya disebrang.

Masuk ke airport railway ada elevator, so ga perlu nenteng koper. Harga tiket railway ke Beijing Capital CNY 25. Saya bertanya apakah bisa refund IC Card disini, dia bilang tidak bisa.
IC Card bisa direfund di Terminal 2 (tujuan saya Terminal 3). Dia mengajarkan saya untuk turun di Terminal 2, dan bilang ke petugas akan refund IC Card lalu kembali (jadi tidak perlu beli tiket railway lagi).
Karcis Airport Railway

OK, said thank you, and bergegas turun ke bawah. Ternyata airport railway diBeijing tidak sama dengan negara yang lain. Pengalaman saya naik railway express, keretanya seperti MRT, disini keretanya seperti kerta api, tapi khusus ke Airport.

Jadi ada seatnya (tapi bebas ga pake nomor). Duduk berdua tapi berhadap hadapan (seperti naik KA yang kursinya diputar kebelakang). Ada juga seat yang tidak berhadapan.

Perjalanan ke airport sebentar (ga sampe 20 menit kayaknya). Saya turun diterminal 2, exit paling terakhir, bilang ke petugas kalo saya mau refund IC Card, jadi kartu/karcis saya tidak ditab dimesin. Kalo saya tab karcis saya, untuk naik railway ke terminal 3 saya harus beli tiket lagi.

Refund IC Card tidak perlu masuk ke gedung Terminal 2. Dari exit saya menyebrang menuju ke loket, dan saya tanya apakah bisa refund IC Card, petugas bilang bisa. Thank’s God, finally, kita bisa refund IC Card.

Selesai saya refund IC Card, saya bilang lagi ke petugas, (tapi orangnya sudah ganti) kalo saya tadi hanya refund IC Card, petugas ga banyak tanya, mesin tab kartu dimatikan, trus saya bisa lewat.

Saya tidak sempat foto disini, baru selesai masukkan uang ke dalam tas, kereta sudah datang. Kami naik kereta turun di Terminal 3. Dari exit saya ikut orang orang saya masuk kedalam gedung, jalan salah jalan pilih yang penerbangan domestik, soalnya airport Beijing capital besar.

Masuk dalam gedung, saya bingung harus check in dimana yah (akibat tiket yang saya print tidak berwarna dan tidak ada lambang airlines) ... Tanya ke petugas dicounter check in (ga tau untuk penerbangan kemana, soalnya pake tulisan bahasa dewa and saya dan males banget bacanya), kami diarahkan tempat untuk check in.

Kalo ada spesial request, bisa request di counter check in. Walaupun flight pendek (2 jam) dapat makan. Antri counter check in tidak panjang. Counter checkinnya mirip dengan Airport Tao Yuan (Taiwan).

Selesai check in, ke toilet sebentar, seperti biasa, dimanapun toiletnya pasti bau pesing. Trus masuk kedalam ruang tunggu. Clear check dokumen (counternya banyak, and antri), trus check bawaan. Teman saya bawa sambal botol dalam tas, dan ternyata tidak diperbolehkan, alias disita. Jadi kalo bawa sambal botol, harus dimasukkan ke dalam bagasi. Sudah saya jelaskan kalo itu sambal, tetap tidak boleh.
Ya sudah, nasib....

Ruang tunggunya mirip LCCT, hanya saja panjang, tidak sekecil LCCT.
Pengen beli bebek peking buat oleh oleh – tapi cuma bisa bertahan 7 hari, total perjalanan kita lebih dari 7 hari, so ga bisa beli (harganya juga mahal CNY 97). Oh ya, kalo beli barang di airport and minta tas/kantong belanja bayar CNY 3. Saya beli snack biskuit biji wijen hitam disini, harga CNY 10 (di Chinswee Temple – Genting, Malaysia juga ada snack ini).

Sambil menunggu flight saya menyambung drama series korea yang lagi booming A Gentelman Dignity (saya senang banget sama film satu ini, selain karena Jang Dong Gun juga bisa liat Lee Jong Hyun, 이종현– CN Blue).

Kurang 25 menit film selesai, penerbangan kami dapat panggilan untuk masuk kedalam pesawat, sambil tetap nonton, saya berjalan antri. Antri disini ga bisa tenang, main srobotan, pada berebut naik, padahal kan sudah ada seat.

Saya naik China Eastern Airlines, flightnya keren, pesawatnya gede....kayak naik Cathay pasific (tapi ga ada TVnya). Padahal flight rute pendek lho (cuma 2 jam), bukan international flight. Terbang dengan pesawat airbus untuk rute domestik dan penumpangnya full. Kereennn....

Seat nyaman lebar, saya dapat seat dekat jendela, dapat selimut dipenerbangan ini. Saya tidak pakai, menurut teman saya yang duduk disebelah saya dingin banget, tapi saya ga dingin, mungkin karena flight siang hari dan duduk disebelah jendela.

Disini pramugari tidak berdiri memperagakan cara memakai alat penyelamatan, tapi pakai TV, yang ada diseat tengah.  Setiap 5/6 seat ada TV diatasnya, sebelum terbang diberikan pengarahan melalui TV.

Setelah board 15 menit, saya mulai mengeluarkan alat alat elektronik saya (sambung lagi liat filmnya). Penumpangnya benar benar mengikuti petunjuk menyalakan alat elektronik setelah lampu sabuk pengaman dimatikan. Beda deh sama penerbangan dengan penumpang orang Indo. Kalo yang satu ini saya kasih jempol buat mereka.

Naik pesawat ini saya tidak berani coba toiletnya. Kira kira 10 menit kemudian pramugari mulai mengantarkan makan siang. Saya tidak request menu vege, jadi saya dikasih roti dobel 2, buah dobel 2, and pramugari bilang saya boleh tambah lagi kalo kurang. For me, itu sudah lebih dari cukup.

Kurang 20 menit dari jam landing pilot memberikan info penerbangan, dan yang bikin saya kaget informasi cuaca di Shanghai 34 derajat. Omo... Pertama saya kira salah dengar. Ternyata pengumunan ke dua diulangi lagi kalo suhu udara saat ini 34 derajat. Saya cuma bisa melongo... seumur umur ga pernah keluyuran dijalan dengan suhu udara segitu panasya.
Jam 1 siang landing di Shanghai Hongqiao airport. Airport Shanghai, menurut saya lebih bagus dibandingkan Beijing. Saya lebih suka. Teman saya mampir ke toilet dulu, yah seperti biasa toiletnya bersih, tapi pake “parfum”, dari luar sudah tercium baunya.

Ambil bagasi, tidak antri, keliatannya cuma satu pesawat yang baru landing. Saya langsung menuju ke informasi center, ambil peta MRT, peta jalan di Shanghai. Didalam airport sudah banyak calo travel.

Dari lantai pengambilan bagasi kami naik lift turun di bawah, karena letak stasiun MRT dibawah . Ternyata jalan menuju ke stasiun MRT jauh banget, lebih jauh dibandingkan Changi Airport.  Sampai di ujung stasiun MRT scan baggage (sama seperti Beijing). Sebelum masuk MRT kami beli air minum dari mesin, tapi harganya mahal CNY 4.

Ruang tunggu MRT lebih bagus dibandingkan Changi, lebih besar dibandingkan ruang tunggu di Dongzhimen railway. Tersedia kursi untuk duduk menunggu kereta. Tidak banyak penumpang yang antri naik kereta, or mungkin sudah depart dengan train sebelumnya.
My Luggage
http://www.travelchinaguide.com/cityguides/shanghai/transportation/subway-ticket.htm


Kita naik MRT get off di East Nanjing Rd St CNY 5 (tiket subway beli di mesin ATM, jangan khawatir ada yang versi bahasa Inggrisnya) menuju ke Blue Mountain Bund Youth Hostel. Lama perjalanan kira kira 30 menit.

Dari penumpang yang naik kereta bisa saya bayangkan penduduk Shanghai pada umumnya, rata rata biasa saja, tidak cakep cakep amat. Beda dengan naik MRT di Seoul or Taipei, penumpangnya banyak yang cakep and keren keren. Sedangkan penumpang kereta di Beijing juga standar rata rata (or mungkin saya belum ketemu dengan pegawai kantorannya yah..., soalnya disana hari Sabtu and Minggu)..

Get off dari MRT sudah berada di Nanjing East Rd, suasana ramai and panasnya minta ampun (waktu itu kira kira jam 2 siang).... Dari Exit 1 kami berjalan lurus saja, sampai perempatan pertama kami belok ke arah Shanghai Snack (toko), berjalan lurus melewati 2 perempatan, sampai terlihat gedung berwarna coklat, ya itulah lokasi hostel.

Shanghai Blue Mountain Bund Youth Hostel
上海山国青年旅舍
Addr: 6F, No.350 South Shanxi Road, Shanghai, 200001
山四南路3506, 上海

Sampai di depan apartement, langsung naik lift ke lantai 6.

Check in, bayar sewa penginapan, istirahat sebentar kami melanjutkan perjalanan ke Jade Budha naik bis.

Dari hostel berjalan ke arah Bei Jing Dong Lu 北京東路 (Beijing West Rd). Mencari bus stop. Bus stop disini seperti di Seoul, tidak ada tempat khusus bus stop, hanya ada papan petunjuk rute bus stop dan no bus yang lewat ditempat itu.

Kami naik bis no 19, tarif CNY 2. Tarif  bis diShanghai jauh/dekat CNY 2. Seharusnya naik bis menuju ke 普陀路江宁路, yang naiknya dari sebrang jalan, tapi kami salah naik, jadinya semakin jauh.

Untung didalam bis saya buka map, dan disebelah ada penduduk asli yang bantuin lihat lokasi sekarang berada dimana. Setelah tau salah, kami turun, dan ganti dengan no bis yang sama ke Jade Budha.

Jade Budha
玉佛禅寺
Alamat : Anyuan Road no 170
Jam buka : 08.00 – 17.00
Saran saya naik taxi saja.

Karena saat kami sampai disana waktu sudah jam 5 kurang 15 menit, dan kami sudah tidak diperbolehkan masuk, yang jaga kayak preman, badannya gede, and kita bukan satu satunya turis yang ditolak.
Temple ini tertutup dari luar, karena tembok merahnya tinggi, jadi tidak tau isi templenya seperti apa.

Ya udah nasib, kita naik taxi ke Yu Yuan Garden, dan yang pastinya ga bisa masuk kedalam soalnya sudah tutup. Yu Yuan Garden tutup jam 17.00. Taxi dari jade Budha ke Yuyuan garden CNY 27.

Berikut info naik taxi di Shanghai (tarif taxi paling mahal di negara Cina):




Day time
23.00-05.00
Flang fall (3km)
  13,00
     17,00
After 3  - 10km
   2,40
      3,10
> 10 km
   3,60
      4,10
Fuel surcharge
   1,00
      1,00
CNY 2,1 (day)/ CNY 3,1 (night) charge for each stop 5"

Taxi booking number :

Dazhong
96822
Qiangsheng
62580000
Jinjiang
96961
Bashi
96840
Haibo
96965

Kami minta diturunkan di Yuyuan Shopping Center. Saat itu jam sudah menunjukkan pukul 17.40, tapi di Shanghai masih terang benderang.

Persis seperti yang dibilang orang orang, kalo tempat ini bagus banget and sangat recomendasi, bahkan ada turis bule yang tidak masuk ke taman Yuyuan, begitu datang langsung menuju ke lokasi Bazaar.



Gaya bangunan disini Cina klasik, seperti bangunan di film film silat, tapi bangunannya baru, dan seluruh bangunannya dicat warna merah (seragam). Didalamnya ada banyak restauran, toko yang berjualan merchandise (but expensive, dan saya tidak tertarik untuk bertanya, takut kalo harganya mahal ga tau harus nawar sampe berapa). Karena Shanghai adalah kota termahal di Cina, kota dengan biaya hidup tertinggi, jadi ya ga heran kalo barang disini mahal.

Menjelang jam setengah tujuh malam (waktu Shanghai – masih terang), kami masuk  food court. Disini gaya menu ala prasmanan. Jadi masuk ambil baki, trus ambil makanan. Tapi tidak ada harganya (soalnya semua menu in Chinese), males juga tanya. Jadi saya ambil yang kira kira saya bisa makan.

Menu makanan disini lumayan, mau dibilang mahal sekali juga enggak. Yang mahal minumannya. Dari makanan berat sampai dessert and sncak cemilan ringan tersedia, rasanya juga tidak mengecewakan. Bahkan ada jualan minuman keras.





Selesai makan, kami berjalan menuju ke danau kecil untuk berforo disana. Karena dari internet saya lihat kalo malam hari pemandangan disana bagus sekali. Tapi sulit sekali mau ambil foto disini, karena ramaii sekali pengunjungnya.

Sampai jam 8 lebih kami memutuskan untuk melanjutkan ke The Bund. Dari Yuyuan bazaar kami jalan kaki, mengikuti papan petunjuk arah. Sebenarnya mau naik taxi, tapi ga dapet dapet. Tapi ga perlu naik taxi, karena jaraknya ga jauh...

Rasanya gerah sekali, panas banget, ga ada angin yang bertiup..... Dan info dari petugas hotel, di Shanghai sudah beberapa hari seperti ini. Waktu ada toko yang berjualan CNY 10 dapat 3 item saya mampir. Tapi ga ada bagus bagusnya, barangnya standar, lebih bagusan SGD 10 dapat 3 di Singapore. Mungkin sudah sering liat toko kayak gitu di Indo, jadi ga minat.

Samapai diujung jalan kami masuk ke taman (dipagari) dan jalan didalamnya gelap, sama sekali tidak ada penerangan, hanya bergantung sinar bulan saja. jadi hati hati karena disana ada kolam.

Ternyata dibelakangnya ada tempat seperti city hall, banyak penduduk lokal yang duduk duduk main bulutangkis, ngobrol, tapi gelap euy...ga gelap gelap amat sih...soalnya dekat jalan raya, jadi masih dapat lampu jalan, walaupun ga terang terang amat.

Kami menyebrang mengikuti orang orang di traffic light. Berjalan terus sampai kelihatan THE BUND (icon kota Shanghai). Tempat ini rameee bangeeetttt....kayaknya turis turis dan penduduk lokal (mungkin lagi cari angin soalnya puanasnya minta ampun) pada tumplek blek disini. Kalo ditotal sepanjang The Bund ada kali 1000 orang.

Pemandangannya kereeeennnn bangeettt, Marina Bay ga ada apa apanya. Building di sebrang – Lujiazui, pada nyala semua lampumya (yang pasti kota ini boros biaya PLN). Disini bisa naik kapal menyusuri sungai Huang Pu, kalo ga salah biayanya CNY 100. Tarif kapal siang hari lebih murah dibandingkan malam hari.

Disini tidak banyak pedagang kaki lima, kalaupun ada, tertib, soalnya ada polisi yang jaga. Pengunjungpun dilarang menginjak rumput. Kami berjalan menyususri sepanjang sungai sampai di Bangunan kolonial kuno, Gedung pemerintahan mungkin, keren banget. Sayang sekali baterai kamera saya habis jadi gambar disini standar (pake hape soalnya).



Disini ketemu sama mbak and mas dari Jakarta yang besok sudah mau balik ke Indo, terheran heran sama itinerary perjalanan kita (nekad banget, ke negara orang cuma berdua, cewek pula hehehe J).

Puas menyusuri The Bund, kaki sudah gempor, sudah ga kuat kalo masih harus dilanjutkan ke Lujiazui. Pemandangan dari  The Bund = Lujiazui, dari Lujiazui pemandangannya The Bund. Hanya dipisahkan oleh sungai Huang Pu.

Jam 9 kami naik taxi kembali ke penginapan. Supir taxinya cakep euy kayak bintang film Thailand, ganteng banget, perpaduan orang Cina and bule...lebih cakep dari supir taxi di Cheongpyeong – Korsel (soalnya yang di korsel asli muka korsel ga ada campurannya, padahal sudah cakep lho orangnya).

Tarif taxi CNY 7, saran saya bawa peta karena tidak semua supir taxi paham daerah Shanghai. Supir taxi yang satu ini bingung ga tau arah, jadi saya kasih map, or sengaja yah.... ga tau ah...

Sampai dipenginapan kira kira hampir jam 10 malam, saya ganti baju kutungan (gerah, baju udah bau keringet banget), kita turun lagi berjalan menyusuri sepanjang East Nanjing Rd.
Isi East Nanjing rd, kurang lebih kayak Orchard road, banyak butik, tapi sudah pada tutup soalnya kita kemaleman. Kalo di Orchard Rd langsung berhadapan dengan jalan raya, kalo di East Nanjing Rd jalannya hanya untuk pejalan kaki.
Ada mall juga, ada juga pedagang kali lima. Jalannya enak lapang, luas, dan ada pengamen yang menyanyikan lagu klasik cina (or lagu tahun 80 an).

Banyak juga pengunjung yang melihat pertunjukkannya. Kita mampir ke counter Hagen Daats, beli es take away, takut hujan, soalnya awannya udah mendung banget, jadi ga berani duduk disana, harga CNY 33.

Sebelum kembali ke penginapan mampir ke 7-11, kembali beli mie instant - jatah sarapan pagi untuk 2 hari, air minum 1.5 liter 2 botol, total biaya perorang CNY 11,6.
Didepan apartemen penginapan ada counter 7-11. Kalaupun tidak didepan apartemen sepanjang jalan ada toko mirip 7-11, tapi bukan 7-11, saya lupa namanya.

That all my first day at Shanghai.

Kamis, 27 September 2012

Perjalanan ke Beijing - 3



Beijing, Senin, 20 Agustus 2012

Last day at Beijing.
Seharusnya kalau kita dapet tiket kereta api ke Harbin, saat ini kita sudah dalam perjalanan menuju ke Temple on Bliss, tapi apa mau dikata no seat – train sudah full book. Banyak orang lokal yang berkunjung ke Harbin.

Bangun pagi hari ini langsung telpon hostel minta extend lagi 1 malam, and ternyata no room available, jadi kita terpaksa kudu pindah.
Langsung, on line ipad and handphone nyari penginapan. Untung koneksi bagus, ga lemot. Rada susah juga sih nyarinya, selain karena kita nyari yang murah, juga nyari yang daerahnya ga jauh dari tempat wisata dan dekat dengan subway station.

Penginapan yang murah, transportasi susah, penginapan yang Ok segalanya, mahal. Budget hostel cuma CNY 250 (secara harga hostel kita CNY 228, tapi normal rate sudah CNY 328). Dengan budget segitu kita ga dapet penginapan, akhirnya budget dinaikkan jadi CNY 300, cari pake Booking.com (my fav web buat book penginapan).

Geser ke kiri, geser ke kanan, akhirnya ketemu Hostel 161 – CNY 359 – no breakfast (ini sudah hostel termurah dengan fasilitas paling bagus), di daerah Hutong. Hutong : Perkampungan kuno – konon perkampungan ini asli seperti jaman dahulu kala- di Beijing. Langsung  kita book, beberes, packing, sarapan mie instant beli dari Beijing Railway Station kemarin. Tinggal diXinmao hostel juga sudah berasa perkampungan kunonya.

Check out, ambil duit deposit CNY 100. Rencana naik subway, tadi sekilas lihat kalo Hostel 161 dekat stasiun subway. Sampai di exit C Zhangzizhonglu subway kita berubah pikiran, naik taxi aja, biar ga repot naik turun subway.
Soalnya subway disini kagak ada elevatornya, kan lumayan angkat koper naik turun tangga.

Ya udah geser ke pinggir jalan raya. Tidak ada bus stop disana.
Ada taxi yang lewat, tapi keduluan orang lain (mungkin orang tu buru buru ke kantor), ada juga taxi yang ga mau berhenti (mungkin takut kalo minta diantar ke Beijing Railway station – disana maacceeettt luas biasa, pas office hour, soalnya keliatan bawa koper).

Disini juga berlaku 2 in 1 (kalo diJakarta 3 in one). Jadi kita dihampiri mobil pribadi ditanya mau kemana, tapi tidak searah. Ada sih cowok cakep, mobil keren yang menghampiri, tapi dia tidak mengerti alamat Hostel 161. Bukan hostelnya yang terletak di jalan kecil, but saya yang kurang lengkap and salah nulis alamatnya... Coba kalo ga, kan lumayan dapet tebengan mobil keren gratis hehehehe.....

Karena ga dapet dapet taxinya, - disini susah kalo mo nyari taxi, soalnya pagi jam 8 lebih, lagi jam jamnya masuk kantor, jadi taxinya susah – so, kita masuk lagi dah ke subway station naik subway ke Hostel 161, and berharap subway tidak rame.

Get off di stasiun Dongsi keluar dari exit C (kalo ga salah inget), langung liat map didepan subway (ada papan map besar), nyari Hostel 161. karena saya salah tulis seharusnya Hostel 161, saya tulis Hostel 16, jadi baca petanya ikutan salah. Dari exit C seharusnya langsung ke arah sebelah kiri, tapi kita ambil jalan sebelah kanan.
Bertanya ke orang orang alamat hostel, arahan benar, sesuai dengan yang saya tulis, tapi berhubung saya salah tulis, jadi yang seharusnya bisa ditempuh 5 menit ke hostel jadi 45 menit.... aigooo....soalnya jalannya muter – jauuhhh.....

Hostel 161, Address :
No. 161 Lishi Hutong, Dongsinandajie, Dongcheng District,
北京市, 城区, 礼士胡同161

Setelah jalan sampe gempor, kehausan, akhirnya sampailah kita di Hostel 161.
Pihak hostel sampe kaget, barusan book 1 jam yang lalu, lha koq udah nongol di depan mereka hehehe…. Disini deposit key lebih mahal CNY 200.

Tampilan hostel cozy. banyak turis bule disini. Hanya sayangnya wifi cuma bisa diakses di cafetaria, sebab wifi masih dalam perbaikan, and tidak ada lift disini. Suasana cafeteria lebih bagus dibandingkan Xinmao Dragon Hostel, interior hostel juga lebih modern.

Untung dapat room dilantai 2, dah gitu ada pegawai yang bisa bantu angkatin koper ke kamar. Kalo di Xinmao hostel kita bawa sendiri. Kasih tips CNY 10, buat bell boy yang bantuin angkat 2 koper.

Interior kamar, perabot, kamar mandi semua lebih bagus dibandingkan dengan Xinmao Hostel (interior lebih modern), tapi fasilitas didalam toilet lebih lengkap di Xinmao Hostel.
Disini hanya disediakan handuk saja, tidak ada sabun, shampoo, sikat gigi, tidak ada sandal kamar mandi juga. Tempat tidur, selimut juga lebih bagus dan bersih. TV sama, bukan TV flat. Tetangga depot mie, tapi ga pernah mampir hehehe….

Oh ya, kalo tidak bisa bahasa mandarin, jangan lupa tanya petunjuk menyalakan AC, soalnya remotenya semua in Chinese (kayaknya semua penginapan disini remotenya pakai bahasa Cina).

Setelah beristirahat, akibat gempor jalan jauh sambil nenteng koper, kita naik subway ke Temple of Heaven.


Oh ya saya mau share pengalaman saya naik MRT di Beijing.
Hari ini waktu saya naik MRT menuju ke Tiantan Subway station, digerbong kereta terdapat sebuah keluarga, papa, mama, anak laki laki 3 orang, paman, bibi. Dan salah satu dari anak mereka keliatan banget kalo lagi ga enak bodi.

Bener aja, sebelum kereta tiba di stasiun Tiantan anak itu muntah muntah. And you know what, yah seperti biasa penumpang yang lain semua menyingkir. Tapi tidak ada satupun penumpang yang membantu keluarga itu.

Jangankan orang lain, keluarga sendiri aja cuek bebek. Cuma si papa aja, sungkan dengan penumpang lain. Karena kasian saya bantu, saya kasih beberapa lembar tisse basah (soalnya papanya pake tangan bersihin muntahan anaknya). Tissue basah itu pertama tama dipakai bersihin lantai kereta, sisanya bersihin anaknya sama tangan papanya. Waktu saya mau turun, saya kasih botol air minum saya ke anak itu, dan beberapa lembar tissue basah lagi, kasian banget soalnya.
And you know what, tidak ada ucapan terima kasih sama sekali, senyumpun tidak. Saya sampe kaget, koq ada yah orang yang kayak gitu. Keluarganya juga keliatan ga peduli....wah... wah.... wah...中國真的希要救求了....

Back to my trip...
Info yang saya dapat dari internet kalo Temple of Heaven ini lebih besar dari Forbidden palace (what???) and lebih kecil dari Summer Palace, padahal tempat yang bisa dikunjungi disini lebih sedikit dibandingkan Summer Palace.

Alamat : 214 Dongsi North Street, Dongcheng

Kami hanya memilih 4 tempat utama yang akan kami kunjungi :
  1. The Hall of Prayer for Good Harvests (祈年殿)
  2. The Imperial Vault of Heaven (皇穹宇)
  3. The Circular Mound Altar (圜丘)
  4. Echo Wall

So kita naik Subway get off di Tiantan Dong Men, take eixt A1. Dari exit berjalan mengikuti orang orang. Seperti tempat wisata yang lain, minim papan petunjuk.
Kami masuk dari East gate, dan rencana get out dari South gate.
Tiket masuk CNY 35.

Pada tiket terdapat tiket masuk ke :
  1. The Hall of Prayer for Good Harvests (祈年殿)
  2. The Imperial Vault of Heaven (皇穹宇)
  3. The Circular Mound Altar (圜丘)

Jadi tiket jangan sampai hilang, karena dimasing masing gate diminta menunjukkan tiket.

Tempat ini luas sekali. Mungkin 75% isi tempat ini adalah taman. Tamannya besaaarrr sekali.
Banyak sekali orang lansia berkumpul disini, merajut, bercerita, latihan menyanyi, main catur cina. Ada satu kakek kakek – walaupun sudah uzur tapi bisa merajut, pakai 2 stick lho, bukan 1 stick.
Keren, biarpun cowok and udah tua, tapi bisa merajut - Salut

Karena kita sudah gempor sebelumnya jadi tambah males rasanya.
Kalo berkunjung ke sini pagi atau sore hari paling bagus, kalo siang panasnya ampun dah.
Kalau lihat di peta, dari pintu masuk menuju ke The Hall of Prayer for Good Harvests (祈年殿) seharusnya tidak jauh. Tapi kenyataannya jauuuhhh sekali.

Sampai di gate Hall of Prayer for Good Harvests, hanya ada 1 building (seperti yang terlihat diinternet or foto orang orang yang berkunjung kesini). Bangunannya tidak besar, hanya saja pelatarannya luas sekali.
Didalam bangunan ada banyak patung, yang saya ingat ada patung sapi.
Interior Hall of Prayer for Good Harvests (祈年殿)
Hari ini saya bawa kamera tapi baterainya masih didalam charger di hostel – lupa ga dikeluarin, so hasil foto hari ini standart.

Mungkin kita disini hanya 15 menit, langsung keluar menuju ke The Imperial Vault of Heaven (皇穹宇).  Jalan menuju ketempat ini hanya luruuusss aja,  tapi jalannya panjaaannnggg.... Kami sempat beristirahat sebentar dibawah pohon, abis jalannya jauh banget and panaassss, jadi haus plus laper, tambah males jalan, mau balik juga ga mungkin, sudah terlanjur jalan jauh.

Sampai digate, kami dimintai karcis, toleh kiri, toleh kanan, mencari Echo wall.
Konon dulu, kata orang yang sudah pernah kesini, kalo di Echo wall bisa mendengar suara orang yang berbisik di tembok. Jadi kalo berdiri ditembok sebelah kiri, berbisik, bisikannya bisa didengar disisi tembok yang lain.

Tapi waktu saya kesana, temboknya dipagari, tidak boleh berdiri dekat tembok. Yah..... batal nyoba Echo wall. Lokasi Echo wall dientrance gate The Imperial Vault of Heaven (皇穹宇).

Bentuk bangunan The Imperial Vault of Heaven (皇穹宇) sama persis dengan Hall of Prayer for G
ood Harvests. Hanya saja pelatarannya tidak luas, dan tidak bertingkat. That’s all.
Hanya 10 menit saja disini trus kita lanjut ke Circular Mound Altar (圜丘).
Mirip seperti bagunan Borobudur (maksudnya bertingkatnya)
Jalan kaki sebentar menuju ke sini. Hanya ada bangunan tangga bertingkat seperti pelataran di Hall of Prayer for Good Harvests, hanya saja tidak ada bangunan diatasnya.  Interiornya melingkar, banyak orang yang berkeliling disana, saya tidak mengerti untuk apa, since I skip it. For me it’s not worth.

Ya udah selesai berfoto sebentar kita langsung cabut.

Mau nyari gate exit susahnya minta ampun. Sama sekali ga ada orang yang bisa ditanyain, Cuma berbekal peta yang sudah saya print saja, untung saja ada papan map ditaman.

Tamannya luas buanget, mau masuk, mau keluar, mau pindah dari satu gedung ke gedung lain, jalannya….alamak, gempor abis…. Saya koq kurang suka sama tempat ini, selain karena bentuk bangunannya sama, didalam juga tidak ada apa apa.

Kios kios yang berjualan juga ga banyak, rata rata kayak warung, jualan snack, merchandise, ada kios foto pake kostum raja disini.
For me, not worth to visit. Kecuali sudah tidak ada tempat yang bisa dikunjungi, ya mainlah ke sini. Kalo ga, Temple of Heaven alternatif terakhir aja.

Finally exit gate terlihat, kami berpapasan dengan orang orang yang baru akan masuk kesini. Paling bagus entrance dari South gate, memang jauh, tapi exitnya nanti gampang.

Keluar dari exit, saya sudah tidak sanggup jalan lagi (ke Subway station), yang ternyata jauuuuhhh banget (dekat pintu masuk), ooohhhh nooo…..mau naik bis, ga tau no berapa, mau naik taxi, semua tidak pake argo, alias main getok harga….
Tanya sama orang yang kebetulan lewat, kagak bisa menjelaskan, cuma bilang kudu jalan sampe keliatan jembatan baru naik bis dari sana (next stop : Pearl Hong Qiao market).

Ya udah naik taxi di jalan aja. Kita berdiri di bus stop nyegat taxi disana. Taxi pertama, keren (mobilnya) sopirnya cewek, begitu tau kita mo ke Pearl Hong Qiao market, kita disuruh turun, karena dia tidak lewat kesana. Dia menuju ke arah yang berbeda.
Aneh ya, mau naik taxi, bayar lho, tapi kudu menyesuaikan dengan supir.

Ya udah, kita nyebrang ke bus stop disebrang. Pengalaman naik taxi disini, jangan mau ngalah, kalo ada taxi berhenti, walaupun penumpang belum turun, sudah kudu stand by dipintu, kalo ga, taxinya bakal disamber orang.
Profesi supir taxi disini sepertinya laku keras ya.....

Tarif taxi di beijing :

Day Time
23.00-05.00

Flang fall (3km)
   10,00
       11,00

After 3 km
     2,00
         2,40
per km
> 15km
     3,00
         3,40
per km
Fuel surchage - if the journey > 3km
     2,00
         2,00


Naik taxi dari temple of Heaven ke Pearl Hong Qiao market CNY 11.

Pearl Hong Qiao Market.
红桥珍珠市 (hóng qiáo zhēn zhū shì chǎng)
Address : 北京市城区天9
Opens from 09:30 to 19:00.

Tempatnya menurut saya tidak besar. Hanya ada 4 floor saja. Tujuan pertama lunch.
Masuk ke Mc Donald. Mau oder juga tidak gampang, since all menu in chinese, jadi tunjuk gambar aja.
Rata rata makanan disini kategory junk food.

Mau makan (sudah jam 2 siang) susah nyari duduknya, full. Karena banyak anak sekolah yang main kesini. Ada yang pacaran. Yang turis ada orang India and Jepang, plus kita.

Selesai isi tenaga, baru kita keliling. Disini kita beli tas tangan CNY 50/biji, beli 3 and Jaket CNY 50. Yang menurut info penjual yang lain terlalu murah, menurut saya ya memang segitulah harganya (mungkin seharusnya bisa lebih murah).
Belanja disini nawar setega teganya minta potongan sampe 80 %, kalo bisa 90% lebih bagus. Soalnya barangnya ga ada mutunya sama sekali.

Di sini saya ga pengen belanja sama sekali. Barang barang sama kayak di Indo (maklum di Indo banyak barang made in China), malahan kalo beli di Indo bisa lebih murah kali (soalnya kita dikasih harga turis disini). Pengunjung juga tidak begitu banyak.
Menurut saya lebih bagusan Mangga dua pasar pagi.

Masa baju kain tipis, jahitan ga karuan, cuma modelnya aja keren – Shanghai look, buka harga sampe CNY 280. Untung ga pengen beli, begitu saya berlalu harga dituruni penjual sampe CNY 25 (padahal saya ga nawar sama sekali). Gila ga, jadi ga pengen beli barang sama sekali disini.
Padahal di Indo, banyak tuh kaos yang harganya cuma sepuluh rebu. Disini harga kaos CNY 100, jadi males dah nawarnya.

Disini jual baju, tas, dompet, sandal, sepatu,  semua modelnya standard. Beda banget sama kalo di Bangkok, begitu masuk ke tempat belanja, dah laper mata, pengen blanja blanji.

Lantai paling atas jual mutiara, tapi ga tau kualitasnya, asli or palsu.
Saya jadi ga percaya sama kualitas barang yang dijual, walaupun barang butik or counter keren (pengalaman hari pertama waktu beli gelang giok di pabrik giok). Bisa aja counter keren tapi yang dijual barang kualitas jelek.

Kata temen yang sekul di sini, beli barang disini, ada harga ada rupa, jadi ga murah murah amat. Mending duitnya buat yang laen aja kali yah....

Jam 4 sore, kita cabut naik subway menuju ke Yonghegong (Lama Temple). Yang menurut info diinternet, tempat ini bagus, dan banyak orang yang rekomen. Apakah seperti itu? Let me continue...

Get off dari Yonghegong subway, interiornya sudah berbeda. Disubway yang lain ga ada pilar merah, disini tembok pilarnya semua dicat warna merah. Sudah terasa nuansa kelentengnya. Saya lupa exit berapa, sepertinya mudah cari aja tulisan Yonghegong

Disepanjang jalan menuju ke Lama temple banyak toko yang berjualan peralatan sembahyang. Dikiri maupun kanan jalan. Disepanjang jalan ini, temboknya dicat warna merah, dan ini pertama kalinya saya lihat pengemis di Beijing. Biasanya didaerah temple banyak pengemis.

Lama Temple
雍和宮Yōnghégōng
Address: 12 Yonghegong Dajie, Dongcheng, Beijing
北京市城区雍和大街12
Tiket masuk CNY 25

Ditiketnya pake barcode, jadi tiket masukknya discan and ada mini CD didalamnya. Setelah pulang saya lihat, isinya tentang temple dan biksu (saya tidak mengerti isi pembicaraannya) cuma liat gambar doang.

Menuju Yonghegong dari pelataran parkir melewati taman, bagus, rapi, terawat. Seperti tempat lainnya tidak ada map, jadi tidak tau lokasi. And saya tidak  print peta temple ini.

So jalan sesuka hati aja. Masuk kedalam ada temple didepan, saya kurang tau temple untuk dewa apa, kalo ga salah dewi kwan Im (sudah lupa, maklum nulis blognya sebulan kemudian). Dibelakang temple itu ada prasasti (ga tau apa itu), cuma banyak orang lempar uang koin disana (khususnya turis bule, orang latin), koin yang dilempar kalo bisa nyangkut diprasasti itu bagus, semakin tinggi – maksudnya diatas, semakin bagus. Mungkin bisa hoki gitu kali yah. Disampingnya ada lonceng kuno item yang gueede.
Banyak orang bersembahyang ditemple depan, kebanyakan orang Cina.

Berjalan masuk kedalam, ternyata didalam ada temple lagi. Yonghegong, temple yang banyak bangunan didalamnya. Seperti di Sleeping Budha (Bangkok), jadi masuk di kawasan temple, didalamnnya banyak temple untuk menyembahyangi arahat. Hanya saja style bangunannya ala China, dan sepertinya Budha aliran Tibet karena huruf  papan nama templenya pakai huruf Tibet, bukan aksara mandarin. Juga bangunannya tidak seluas Sleeping Budha (Wat Pho) di Bangkok.

Terlihat 2 orang biksu melintas, mereka menuju ke belakang temple, jadi saya ikuti saja. Dibelakang ternyata, sepertinya bangunan induk, ada temple yang besar dan bangunannya bagus. Dan anak naga diatas atapnya berjumlah 9 ekor. Jadi pasti temple yang satu ini bukan temple biasa.
Patung Budha Maitreya. Ambil dari Mbah Google, soalnya kamera ga support, tempat gelap - kurang cahaya.

Ditembok luar tertulis, didalam ada rupang Budha Maitreya, tinggi dan besar (saya lupa ukurannya), yang tertulis disana bahwa Budha Maitreya adalah Budha akhir jaman. Temple ini tercatat di Guiness book record of the world.

Nice place, not crowded, sore hari duduk duduk disini juga bagus, tenang. Tapi tidak setenang temple yang saya kunjungi di Sunmoonlake – Taichung, Taiwan (disana lalat terbangpun terdengar). Tempat paling sunyi sepanjang saya mengunjungi Beijing.


So kesimpulannya, temple ini layak dikunjungi. Berkeliling disini 1 – 1,5 jam cukup.
And toiletnya juga lumayan bersih (lumayan, tidak begitu bau).

Keluar dari temple, (karena sudah tutup) langsung mencari makan. Saya menuju ke Fairy Su (Depot vege).

Fairy Su Vegetarian Restaurant (素精灵)
Location:
No.30, Yonghegong Street, Dongcheng District

Untuk harga makanan, terjangkau, taste good. Seperti biasa di Cina masakannya berminyak, yang mahal minuman. Harga jus disini per gelasnya CNY 18.
Tempat cozy, seperti restaurant berbintang.

Setelah makan kita lanjut menuju ke Yaxiu, pusat perbelanjaan di Beijing, yang lebih besar dari Pearl Hongqiao Market.

Yaxiu Market
三里屯雅秀市 
Address: Gongti Beilu 58, Chaoyang District
朝阳区工体北路58

Dari Yonghegong kami naik subway exchange di Dongdan ke stasiun Guomao, dan disambung naik bajaj (saya tidak tau apa istilah kendaraan ini di Cina) menuju kesini CNY 10. Waktu menulis blog ini saya cari info, ternyata namanya "bread cars" (Minivans) (mianbao che) lucu yah….
Bentuknya kayak bajaj, tapi kursi penumpangnya – seperti tempat roti (kotak, kaca putih polos), Cuma bisa diisi 2 orang saja.

Yaxiu, yah kurang lebih kayak Mangga dua pasar pagi, tapi lebih kecil. Dilantai 1 berjualan baju. Dan yang kurang menariknya, disini semua toko jualan barang yang sama. And harganya gila gilan, jadi kudu nawarnya super duper tega.
Dah gitu disini penjualnya kasar kalo ngomong. Jadi males beli.

Barangnya sama seperti baju diIndo, ga ada spesial spesialnya. Harganya juga kurang lebih sama (setelah ditawar, selisih paling dikit aja). Lantai 2 berjualan sandal, sepatu, tas, dompet. Lantai 3, peralatan elektronik, asesoris HP, kamera. Saya cuma beli baju model cina sebiji saja.

Karena sudah malam, and nanggung masih jam setengah 9, kami lanjut menuju mall. Sebelumnya sudah nyari info di mbah Google kalo kalo The Place mall, tempat hangout nya anak muda disana. Mall ini keren, paling bagus dikunjungi malam hari jam 9 an.

Soalnya ada big screen di sana, satu satunya mall yang bisa kayak gitu diAsia Tenggara.

The Place Mall
Add: 9 Guanghua Lu, Beijing, Chaoyang Distric.
北京市朝阳区光路甲9

The Place Mall, mall terbesar ke 4 di Beijing.

Karena sudah malam jadi kami naik taxi saja. Kami bertanya ke information center dilantai 1 Yaxiu market, dan minta tolong untuk dituliskan nama The Place mall in China. Petugas – cewe, dengan senang hati menuliskannya, katanya anak muda memang harus kesana, diberi petunjuk kalo mau naik bis, saya dengarkan saja, walaupun saya ga pengen naik bis.

Naik taxi kesana tarif CNY 11. Sampai disana kagum juga dari luar tampaknya mall yang satu ini branded banget, jadi ga pede mo masuknya.
Banyak orang duduk ditangga, menikmati film yang ditayangkan di Big screen, film tentang luar angkasa. Tidak ada tokoh, cuma efek suara dan gambar berwarna yang keren.
Setelah film selesai (+/-15 – 20 menit), ditampilkan MV lagunya Madonna, saya tidak tau judul lagunya apa.

Selesai melihat film, kami masuk ke dalam mall, mau numpang ke toilet.
Walaupun mall terbesar ke 4, yang namanya toilet tetep aja sama. Semua toilet di China khasnya kayak gitu.

Barang disini mahal mahal and keliatan banget kalo branded. Kita masuk ke salah satu swalayan, beli roti and cari baterai.
Waktu sudah jam 10 malam, sudah banyak tenant yang tutup. Jadi kami memutuskan untuk pulang.


Dari sini naik taxi ke Hostel 161 tarif CNY 13, tapi kena charge CNY 2. Ada tiket yang harus dibayar per penumpang CNY 1. Saya ga tau kenapa kena charge, ya udah dibayar aja.
That all my Trip at Beijing, see you at other city...