Kamis, 28 April 2011

Chatuchack, Chamlong Asoke Vegetarian

Minggu, 24 April 2011

Last day at Thailand.
Jam setengah 6 kami diantar ke airport, waktu 20 menit. Karena sudah self check in, flight jam 06.40 kami langsung ke gate. Penerbangan tampak ramai.

Sampai di Bangkok, kami ke tempat penitipan bagasi untuk menurunkan muatan kami. Diperbolehkan untuk mengambil bagasi, waktu yang diberikan 5-15 menit.
Setelah itu kami naik Airport railway ke Phaya Thai – rate 45 bath. Dilanjutkan naik BTS ke Mochit – tujuan Chatuchak, rate 30 bath.

Dari BTS jalan kaki kira2 5 menit untuk sampai ke pasar ini. Luas pasar ini 18 hektar, konon merupakan pasar terbesar diasia.
Tapi tujuan utama kami adalah Chamlong Asoke Vegetarian restaurant. Ternyata tempat ini tidak berada didalam pasar, kami perlu keluar dari pasar ini, dari sisi yang berbeda dari tempat kami masuk, kemudian menyebrangi jalan raya. Disebrang Chatuchak terdapat tempat penjualan furniture. Dari sini kami jalan lurus kemudian belok ke kiri. Disanalah Chamlong Asoke Vegetarian restaurant.

Chamlong Asoke merupakan food court yang seluruh menu yang disajikan vegetarian, organic, no onion, no garlic. Makanan disini murah rate 10-20 bath. Nasi, mie, bihun, sup, buah, gorengan, kacang kuah, dll. Semua menu lezat, akan tetapi apa daya kapasitas tampung terbatas, jadi tidak bisa mencoba semuanya.

Disini juga terdapat Supermarket yang menjual bahan organic & vegan. Kami membeli ice cream harga 15 bath – 4 rasa – seperti es puter, but delicious.

Setelah kenyang dan membungkus nasi untuk makan malam kami, kami lanjut ke JJ market (Chatuchack). Karena menurut kami barnag disini mahal mahal, jadi kami tidak window shopping disini, hanya membeli anting, harga 9 bath, dompet kecil 10 bath & kaos 100 bath dapat 3 item.
Cuaca sangat panas & terik, kami tidak sanggup melanjutkan perjalanan, jadi kami putuskan untuk kembali ke airport. Naik BTS ke Phaya Thai lanjut dengan airport railway. Sampai diairport kami ngaso, ganti baju, bersantai2, serta makan malam. Baru kemudian kami mengambil bagasi dan drop baggage.

Antri drop baggage juga tidak terlalu panjang, dibandingkan dengan counter check in.

Airport disini free duty, tapi snacknya mahal.

That’s all my journey to Thailand. See you on my next trip.

Perjalanan ke Chiang Rai

Sabtu, 23 April 2011

Pagi ini hujan, sehingga cuaca sejuk, sejak kemarin malam hujan, kami tidur dengan jendela terbuka.
Hari ini kami mengambil tur ke Chiang Rai melalui Travel Hub, Harga 900 bath (tur gabungan). Book via on line.
Sarapan pagi roti toasted (2 pc) dengan selai nanas & butter, harga 25 bath.

Jam 07.10 kami dijemput Travel Hub, untung lokasi penginapan kami dekat dengan Travel Hub, jadi kami dijempul paling awal sehingga bisa pilih tempat duduk didepan. Peserta tur total 8 orang, Kami dari Indonesia, 2 orang dari Hongkong, 3 orang dari Singapore, 1 orang dari New Zealand.

Berikut tujuan wisata kami :
• Visit Mae Khajan hot springs
• Wat Rong Khun (White Temple)
• Visit Golden Triangle
• Boat trip on the Mekong to Laos Island (option)
• Have lunch
• Visit border market at Mae Sai
• Visit Yao hill tribe village
• Visit Akha hill tribe village
• Visit karen hill tribe village

Menurut guide kami (Ms Anna), bahwa konon terdapat kerajaan lama, Lanna Kingdom, dengan raja bernama Meng rai. Suatu hari raja kehilangan gajahnya, dan pergi mencarinya.
Dalam pencarian itu sampailah raja disuatu tempat (sekarang Chiang Rai), dan raja menyukai tempat tersebut, lalu dibangunlah kota disana.
Selanjutnya barulah ditemukan Chiang Mai. Luas Chiang Rai hanya setengah dari Chiang Mai.

Mae Khajan Hot Springs
Dibutuh 1 jam mengemudi ketempat ini. Sampai disana ada Getsyer – tapi air tidak panas. Dan dibelakang ada tempat untuk merendam kaki. Suhu air 70-80 derajat Celcius. Udara sejuk – ada pedagang yang menjual asesories.
Dibandingkan dengan tempat pemandian air panas Ciater – Bandung atau pemandian di Gunung Kelud, tempat ini kecil sekali.

Kami berendam kaki disana, setelah itu kaki terasa lebih nyaman.

Wat Rong Khun (White Temple)
Dari Hot spring dibutuhkan 1 jam mengemudi ke White temple. Kuil ini dibangun oleh artis ternama Thailand. Ada foto artis tersebut disana. Saya lupa namanya, karena dia berasal dari Chiang Rai dan ingin melakukan sesuatu terhadap kampung halamannya, maka ia mendirikan kuil disini.
Sampai hari ini kuil tersebut belum selesai dibangun, tapi bangunan induk sudah selesai. Disini dilarang merokok, membawa minuman keras.

Pada bangunan kuil bagian bawah banyak ukiran tangan, yang melambangkan neraka – bad people, sedangkan orang yang baik melewati jembatan masuk ke dalam kuil. Di dalam kuil ada patung Budha (tidak besar).

Yang menarik didalamnnya terdapat wallpaper dengan cerita : dunia diambang bencana, banyak bencana baik yang disebabkan oleh manusia (senjata, nuklir, bom) maupun bencana yang disebabkan oleh alam. Disana juga digambarkan banyak super hero (Superman, Spiderman, batman, bahkan Doraemonpun ada), tapi mereka tidak bisa menyelamatkan dunia dari kekacauan. Hanya orang orang baik saja yang selamat naik perahu ke surga.

Didalam kuil dilarang mengambil foto.
Banyak tempat bisa berfoto disini.
Toilet disini mewah sekali, karena seluruhnya berwarna emas. Sangat cantik.
Disamping terdapat gedung pameran lukisan, didalamnya terdapat berbagai macam lukisan Budha, burung phoenix, dan binatang kuno berkaki 4 (ada dalam sejarah bangsa Cina).

Dipinggir ruang pameran terdapat fasilitas air minum gratis. Airnya sejuk, dingin.

Golden Triangle
Kenapa disebut Golden Triangle ?
Karena dulunya tempat ini banyak ditanami opium dan alat pembayaran yang diterima hanya emas (Gold).
Tempat ini merupakan titik pertemuan 3 negara : Thailand, Laos, Myamar.
Jadi tempat ini disebut Golden Triangle.
Sungai Golden Traingle merupakan aliran sungai Yunan dari Cina. Bila ingin berpergian ke Cina dengan kapal kecil melalui sungai ini memakan waktu 3-4 hari.

Disini kami naik perahu, untuk naik perahu kami membayar 300 bath + 20bath untuk tax masuk ke Laos.
Dipinggir sungai ini terdapat Kasino – di Myanmar, serta ada hotel mewah – Paradise Hotel.
Kami diturunkan di Laos market.
Disini bisa dtemukan banyak barang dari Cina, karena pada umumnya mereka merupakan orang Cina yang berdagang dan tinggal disana. Bath diterima disni.

Kami ditawari minum whisky – gratis. But you know what, whiskynya berasal dari dalam botol yang didalamnya terdapat ular berbisa, kalajengking, laba laba beracun. Saya tidak mencobanya, yang mencoba turis asing (bule), dan menurut mereka rasanya sangat tidak enak.
Kami diberi waktu setengah jam untuk belanja disini.
Barang disini lebih murah dibanding Thailand, bahkan dari Chatuchak. So beli beli beli….
Contoh dompet kain dengan gambar gajah, di sini Bath 100 dapat 3 (nego – 70 bath), dichatuchak 120, tidak bisa nego. Tempat yang menjual barang serupa di chatuchak paling murah : 80 bath.

Setelah itu kami makan siang. Saya tidak tau tempat kami makan siang, yang pasti tempatnya bagus, sejuk, menu makanan sangat beragam, terdapat kue, buah, sayur, nasi, mie, bihun, sup (komplit).

Border Market at Mae Sae
Perjalanan dilanjutkan ke Pasar Mae Sae. Letak pasar ini diperbatasan Myanmar. Untuk orang asing yang ingin menyebrang harus membayar 500 bath, sedangkan untuk penduduk lokal hanya perlu membayar 20 bath.

Disini banyak pendatang dari Cina, jadi jangan heran bila banyak menemukan produk dari Cina. Bahkan saya menemukan la ji (baca Lakji) makanan khas Zhu Hai – Cina disini.
Snack disini murah, banyak pedagang menjual permata. Bagi yang tidak berpengalaman dengan batu permata tidak disarankan untuk membeli disini.

Akha/Yao Trible Hill Village
Masyarakat Akha merupakan imigran dari Yunan – Cina. Mereka datang kesini beberapa ratus tahun yang lalu. Juga ada pendatang dari Burma & Laos, mereka datang saat Negara mereka sedang ada perang.

Mereka tinggal dirumah panggung yang terbuat dari bambu. Dan hanya ada 1 ruangan didalamnya, yang digunakan sebagai ruang tamu & ruang tidur. Dapur ada diluar rumah mereka.
Mereka memenuhi hidup mereka dengan bercocok tanam, dan berternak.

Karen Hill Village
Lokasi suku Karen dekat dengan suku Yao/Akha. Cara hidup mayarakat suku Karen sama dengan panduduk yao/Akha. Bedanya gadis disini memakai ring dileher mereka.
Untuk masuk kesini kami harus membayar 200 bath.

Mengapa mereka diharuskan memakai ring?
Dulu saya mendengar mereka memakai ring supaya tidak diterkam oleh harimau. Akan tetapi kata guide kami, mereka diharuskan memakai ring dengan tujuan supaya tidak menikah dengan orang diluar suku Karen.

Mereka mulai memakai ring sejak berusia 5 tahun. Tapi saat ini mereka boleh memilih untuk tidak memakai ring, karena mereka ingin pergi ke sekolah umum.
Ada relawan yang datang ke suku ini tiap hari untuk memberikan pendidikan.
Saat ini mereka sudah diperbolehkan untuk menikah dengan orang dari luar. Dan bila mereka menikah dengan orang luar mereka boleh melepaskan ring tersebut. Bila berpergian keluar, mereka akan menutupi leher mereka supaya tidak tampak seperti orang asing.

Sekarang hanya anak perempuan yang lahir pada hari rabu, saat bulan purnama yang harus memakai ring dileher mereka. Dipercayai bahwa mereka akan tampak cantik bila memakai ring.
Tanpa memakai ringpun mereka sudah terlihat cantik. Yah, gadis suku ini cantik cantik.
Saya mencoba memegang ring tersebut, beratnya lebih dari 4kg. Wow…mereka harus memakaianya sepanjang hidup mereka.

Mereka hidup mandiri, bahkan membuat baju sendiri. Para gadis sehari harinya menenum kain untuk dijadikan selendang for sale harga 1000 bath.
Rok yang dikenakan mereka pada dasarnya adalah sarung.

Beberapa ada yang memakai ring dibawah lutut, dan anting anting yang panjang dan berat . It's was from different community, not Karen.

Setelah itu kami kembali ke Chiang Mai, dibutuh waktu 3 jam untuk mengemudi ke Chiang Mai. Kami turun di restaurant taste from heaven. Restaurant vegetarian & organic, harga lebih mahal range 59-89 bath.

Perjalanan ke Chiang Mai

Jum’at. 22 April 2011

Jam 06.30 kami sudah dibawah, tujuan check out dan mau titip bagasi, karena kami akan melanjutkan perjalanan ke Chiang Mai by plane. Tidak ada petugas di meja check out. Ternyata ada peraturan untuk check out pagi hari harus dilakukan pada jam kerja : jam 08.00 – 22.00, selain jam itu tidak dilayani.
Tidak ada staff yang bisa membantu kami check out, karena semuanya wewenang dari petugas office. Jadi kami rugi 100 bath (uang deposit kunci) dan titdak bisa titip bagasi. Untuk titip bagasi ada formulir yang harus diisi. Harga titip bagasi Suk 11 per hari 20 bath.

Ok, kami tidak mempermasalahkan itu. Kami ambil bagasi kami dan langsung ke airport naik taxi meter. But you know what, begitu supir taxi tau kami ke airport Suvarnabhumi (istilah supir taxi BKK), dia langsung mencharge kami 500bath (alasannya jauh), dan kami tidak bisa menolak, karena jam check in sudah mepet, akibat menunggu owner Suk11 datang. Flight kami jam 08.40, saat itu sudah jam 07.30.

Tips naik taxi, pilih taxi warna merah muda, karena mobil lebih baru jadi bisa jalan dengan cepat. Taxi kami warna hijau, tidak bisa jalan cepat, walaupun sudah jalan 100km kecepatan masih lambat.
Sampai diairport, kami minta diturunkan di gate 2, tapi supir taxi sok tau, dan diturunkan di gate 6. jadi kami bawa bagasi lari menuju gate 2 (Gate Air asia – penerbangan domestic & international sama).

Karena sudah selft check in, kami hanya menanyakan pintu gate, dan turun ke bawah untuk titip bagasi di airport. Harga per hari 100 bath, 12 jam selanjutnya 50 bath per 12 jam.

Flight depart on time, sampai di Chiang Mai (oh ya book tiket ke sini jauh jauh hari – waktu promo, tiket normal bath 1200 keatas, saya dapat bath 756 - one way, tiket PP dikali 2) +/- jam 10.00.

Tujuan pertama Wat Suan Dok, kami naik taxi – karena tidak menemukan Red Car, kami naik taxi. Tapi tidak naik dari dalam – karena taxi dari dalam harga Bath 120. Kami naik taxi airport diluar. Bayar airport tax 50 bath, lalu bayar meter ke supir. Meter sampai Wat Suan Dok 52 bath.

Disini cuaca juga terik. Memang kota lebih sepi dibanding bangkok, tapi panasnya sama saja. Setelah masuk ke dalam temple, foto2, kami ke belakang makan siang. Disini menjual menu vegetarian vegan dan organic. Harga makanan 40-45 bath. Minum gratis (air putih).
Kami order Sup Tom Yam, Nasi Goreng, Sphaggethy, nasi beras merah – total 140 bath.

Setelah itu kami naik Songtheuw ke Chiang mai University – tariff bath 20 per orang. Dari sana kami naik red Car (Songtheuw) ke Bhubhing Palace, setelah nego kami dapat Bath 600 (supir menunggu kami). It’s private tur.

Perjalanan +/- 40 menit (supirnya ngebut banget, pastikan sudah makan kalo mau naik, supaya ga mabok).
Sampai disini beli tiket 50 bath + dapat peta. Ada 10 tempat yang bisa dikunjungi – it’s garden & only had small building, which we can’t enter it.

Bunga disini cantik, cuaca sejuk, dan kami hanya sampai stop ke 5 – air mancur, yang sialnya waktu itu dimatikan. Padahal ke Bhubing palace mo foto disana. Ya udah balik dah.

Next destination Wat Prahtat Doi Suthep – jarak 4 km dari bhubing Palace. Tidak sampai 10 menit sudah sampai.
Langsung beli tiket Bath 50 (20 – tiket masuk, 30 – naik elevator). Konon Wat ini merupakan candi tersuci di Chiang Mai, dan banyak orang yang datang berdoa disana, baik penduduk lokal maupun turis.

Dari sini bisa melihat pemandangan kota Chiang Mai, sayang watu itu berkabut, jadi pemandangan tidak jelas. Kami turun tidak naik elevator tapi melalui tangga naga. Di tengah tengah tangga ada anak kecil berkostum tradisional masyarakat Yao Hill Village. Untuk berfoto dengan mereka harus membayar 20 bath.
Bila ingin membeli barang disini, beli saja, karena di bandingkan dengan harga di Chatuchak harga lebih murah, bisa ditawar juga.

Selanjutnya kami melanjutkan perjalanan ke Wat Prah Shing – ini merupakan kuil tercantik di Chiang Mai. Disini kami membayar ongkos Red Car 700 bath (seharusnya membayar 600 bath saja sudah cukup, tapi saya kasihan karena kami naik dari Chiang mai Univ, tapi diantarkan ke down town).

Di Wat Prah Shing banyak bikhu cilik, sepertinya mereka baru saja melakukan ritual atau kegiatan disini. Kami hanya sebentar – setelah berfoto – kami melanjutkan ke Wat Chedi Luang dengan jalan kaki.

Disini merupakan kuil tertua di Chiang Mai, suasana didalam kuil lebih khusuk. Tampak bangunan sudah terlihat tua tapi masih terpelihara.

Kami melanjutkan perjalanan dengan tuk tuk ke May Kaidee restaurant (tariff bath 50)– Vegan & organic rest. Makan disini murah, 1 porsi hanya 20 bath. Setelah makan kami langsung check in ke Chiang Mai thai House, naik tuk tuk (bath 50).

Chiang Mai Thai house, merupakan guest house kecil, tapi ada kolam renang, plus 5 PC dengan free internet yang bisa digunakan jam 8 pagi – jam 10 malam. Kami menyewa kamar dengan fan (420 bath – book via booking.com), tanpa breakfast.

Kamar bersih, jendela lebar, bisa dibuka tanpa khawatir ada serangga masuk, karena ada kawat nyamuk yang bisa dibuka tutup. Ada TV (Thai channel, yang bisa kami lihat hanya star movie saja).
Kamar mandi bersih, ada handuk dan sabun. Dibandingkan dengan Suk11, harga jauh lebih murah, fasilits lebih banyak. Chiang Mai siang hari hawa terasa panas, tetapi malam hari hawa sejuk.

Dari Guest house ke Chiang Mai Night Bazaar bisa ditempuh dengan jalan kaki 15 menit. Saat check in kami diberi peta Chiang Mai.
Guest house menyediakan sarana penjemputan atau pengantaran ke airport. 160 bath untuk 1 atau 2 pax, sedang lebih dari 3 : 80 bath/pax. Kami diberi rate 300 bath untuk 2 orang, tidak bisa dinego karena kami ke airport jam setengah 6 pagi.

Next trip Chiang Rai.

Perjalanan ke Bangkok


Lama sudah menanti perjalanan yang satu ini. Akhirnya bisa juga menjejakkan kaki ke Thailand. Untuk penerbangan Air Asia bisa web check in 7 hari sebelum tanggal penerbangan, jadi saran saya lebih baik check in via web.
Karena penjemputan teman saya ke airport mepet, saat sampai di counter check in sudah tutup – kami sampai kurang 45 menit dari jadwal penerbangan. Untung sudah self check in, jadi kami hanya drop baggage saja.
Bila tidak membawa bagasi – tinggal ke counter check in air asia untuk minta validasinya.
Sebelum ke imigrasi (out from Indonesian) pastikan sudah mengisi form keberangkatan & kedatangan yang diperoleh saat check in – kalau belum diisi akan ditolak petugas imigrasi.

Rabu 20 April 2011.

Sampai di Suvarnabhumi sudah malam jam 19.40, penerbangan board on time. Imigrasi juga tidak antri, yang menunggu agak lama antri ambil bagasi. Jadi bisa ada kesempatan bernarsis ria dulu hehehe....


Setelah itu exit di gate 8 – turun 1 lantai beli tiket bus ke AE03. Kami menginap di Suk11 – Sukhumvit, harga tiket Bath 150. Bis langsung berangkat – walaupun penumpang cuma 4 orang (termasuk kami). Lama perjalanan kira2 45 menit (karena rute bis memutar – jadi agak lama). Kami diturunkan di soi 5 (sama dengan penumpang yang lain), Suk11 di soi 11.
Setelah Tanya kesana kemari – akhrinya kami sampai di Suk11 (tidak perlu naik taxi atau tuk2 kesini – bisa ditempuh dengan jalan kaki). Sepanjang jalan Sukhumvit banyak pedagang kaki lima, tapi harga disini mahal.

Sampai di Suk11, tidak ada petugas di depan meja check in, walaupun dibelakang meja check in ada kantor (di dalamnya ada 3 orang) tapi tidak ada yang mau keluar melayani kami. Setelah mengetuk pintu dan mengatakan kalau mau check in, baru deh salah satu staff keluar.

Staff unfriendly, cenderung tidak informatif, jadi harus cari info sendiri.  Walaupun guest house dengan harga murah, seharusnya mereka bisa memberikan pelayanan yang lebih baik.

Kami dapat kamar di Lt 4, (413), harus naik tangga ke atas, plus bawa bagasi. Tangga kayu kecil, sangat tidak nyaman, hati2 untuk orang yang sudah berumur, sama sekali tidak rekomendasi tempat ini.

Setelah check in, kami jalan2 disekitar Sukhumvit – tidak beli apa2. Pengenya sih ke China town, tapi dari Suk11 kesana makan waktu 45 menit, transport yang paling dekat BTS hualampong, setelah itu harus naik bis (ribet – jadi ga jadi ke sana).

Kamis, 21 April 2011.
Hari kartini, jadi hari ini pakai baju batik. Berpakaian sopan, celana panjang – karena tujuan kami hari ini Grand Palace, Wat Pho. Wat Arun, Vimanmek Mansion yang menuntut untuk berpakaian rapi dan sopan.

Sarapan pagi jam 7 pagi (sarapan disediakan jam 07.00 – 10.00). Menu buah (jambu, buah naga, melon) plus roti (bisa toasted – toast by ourself) selai nanas or butter. Ada minuman aneh, seperti buah tapi dilapisi tepung, tidak tau apa nama minuman ini, but it’s delicious – must try it.

Selesai sarapan langsung jalan ke BTS nana, beli tiket di vendor machine harus pakai koin. Karena tidak ada koin, kami menukarnya di loket.
Cara beli tiket, pilih lokasi BTS (tujuan paling akhir) – lihat petunjuk di samping mesin, masukkan koin, tiket kartu akan keluar.

Kami naik BTS ke Siam, lalu change BTS ke Saptha Taksin (Tujuan Saptha Taksin pier – naik perahu) ke Grand palace.
Disini saya melakukan kesalahan, saya hanya beli tiket sampai BTS Nana, padahal kami naik sampai ke Saptha Taksin. Sampai di exit BTS, saya bilang ke petugas kalau tiket yang saya beli hanya sampai di Siam, lalu tiket kami diminta, discan, dan kami harus membayar 30 bath (tapi petugas tidak marah).

Diluar BTS banyak sekali pedangan kaki lima, menjual sarapan nasi, roti, buah, harga murah. Buat yang belum sarapan bisa beli disini.
Jangan beli tiket perahu di loket – harga 150 bath, untuk tur Chao praya river. Langsung naik ke perahu, bayar diatas perahu (ada kondektur perahu yang akan menagih).
Kami naik perahu bendera oranye turun di Tha Chang (N9), harga perahu 11 bath.

Dari Tha Chang, jalan kaki 5 menit sampai di Grand Palace. Tiket masuk 350 bath (include tiket ke Vimanmek Mansion). Disini kami diberi peta Grand Palace, bisa juga sewa audio 300 bath, untuk self tur guide, kami tidak menyewanya.

Bawa payung, disini panas sekali, pakai topi tidak membantu, jam 9 pagi ada parade tentara. Setelah bernarsis ria disini, (tidak semua tempat kami kunjungi – karena cuaca sangat panas, I think it was 32°C, for me it’s extremly hot, buat karyawan kantoran yang jarang terpapar matahari) kami melanjutkan perjalanan ke Wat Pho.

Menuju ke Wat Pho, naik kapal ke Tha Tien pier (N8), tarif boat lebih mahal bath 14, padahal hanya 1 stop saja.
Tiket masuk 50 bath. Sayangnya bangungan Budha tidur dalam perbaikan, tapi kami bisa masuk kedalam. Setelah itu masuk ke dalam bangunan yang lain. Disini lebih enak, karena bisa masuk ke dalam building, jadi bisa berteduh. Dibanding Grand Palace, jalan2 ditempat terbuka.
Untuk masuk ke dalam setiap bangunan (saya rasa tempat para Arahat), wajib melepaskan alas kaki. Jangan khawatir tidak akan hilang.

Setelah kami rasa cukup, (tidak mengunjungi setiap tempat) kami melanjutkan ke Wat Arun. Dalam perjalanan kami stop disalah satu pedagang kaki lima beli air harga 10 bath (7-11 – harga air 7 bath) dan membeli gantungan kunci 100 bath untuk 5 item, pluas buah plum 20 bath.

Dari Tha Tian kami menyebrang ke Wat Arun naik perahu, 3 bath. Paling bagus ke Wat Arun sore hari, karena siang terik banget. Disini kami naik sampai ke atas, step tangga lebih tinggi dari borobudur, tapi ukuran tapak tangga lebih kecil, jadi hati2.
Kami hanya sebentar disini, karena cuaca sangat panas.

Lalu kembali ke Tha Tian naik kapal – 3 bath. Disini kami makan dipinggir jalan beli nasi putih 10 bath (karena vegetarian, kami bawa lauk dari rumah). Makanan yang dijual, seperti bakso, nasi, mie, bihun. Banyak penduduk lokal yang makan disini.

Lanjut ke Vimanmek Mansion (Rumah jati terbesar di sunia), kami pergi dengan naik taxi meter – 115 bath. Vimanmek Mansion sangat luas. Tips berpergian : Print lokasi dengan bahasa thai plus alamat, karena logat kami tidak dimengerti supir taxi (sangat membantu dan mempermudah perjalanan).
Tas, kamera, Hp harus dititipkan di loker, tariff 30 bath (hanya bisa dibuka 1 kali). Untuk masuk kedalam akan ada petugas mengecek apakah tidak ada barang yang tidak boleh dibawa. Tiket masuk – tunjukkan tiket yang dibeli dari Grand Palace.

Lalu memilih guide untuk keliling, Guide yang tersedia Bahasa Inggris, Thai, Mandarin. Untuk masuk ke dalam gedung kami harus melepaskan sepatu.
Vimamek Mansion dibangun di awal tahun 1900 oleh Raja Rama ke V, didalamnya banyak benda benda bersejarah, dari berbagai Negara (China, Jepang, Belgia, Inggris, Portugis, Perancis, Spanyol, dll), terutama Eropa, karena Raja Rama V dulunya bersekolah di Eropa.

Kami tidak mengitari seluruh tempat di Vimanmek Mansion, taman disini sangat bagus, spot yang bagus untuk berfoto.
Kami melanjutkan perjalanan ke Platinum Plaza by taxi meter, 82 bath.

Disini kami turun di zona 1 (Platinum plaza memiliki 3 zona). Kami langsung menuju ke food court, lantai paling atas dan memesan menu vegetarian : tom yam (45 bath) dan noodle (45 bath). Untuk membeli makanan disini harus membeli kupon dahulu (kupon berbentuk kartu).

Setelah selesai makan, kami turun ke lantai bawah belanja.
Tips belanja disini, belilah di lantai tas, harga lebih murah dibanding beli di lantai 1 or 2. Jangan lupa menawar, min 30%. Tapi ada juga yang sudah sale, jadi harga fixed price.

Karena ingin membeli tas kami pindah ke zona 3, disini juga kami naik ke lantai paling atas. Banyak pedagang, sepatu disini, mutu barang bagus, tapi harga murah. Dengan harga (IDR 100ribu) sudah bisa membeli barang dengan kualitas yang bagus, model keren.
Diluar Platinum plaza ada patung 4 face, tapi tidak ada yang sembahyang disini. Setelah itu kami jalan kaki ke I setan (kami tidak memakai peta, karena bis dari airport kemarin melalui jalan ini, jadi kami sudah mendapatkan gambaran).

Disini ada patung Ganessa dan 4 Face, banyak sekali orang yang bersembahyang disini. Patung Ganessa untuk kelancaran usaha/bisnis, sedangkan patung 4 face untuk kesehatan, asmara, dll.
Ada dupa dan lilin gratis yang bisa dipakai disini, bisa juga beli diluar dapat dupa, lilin, plus bunga mawar harga 70 bath.

Setalah sembahyang kami naik ke atas, mall seperti sogo (ada toko buku Kinokuniya dilantai paling atas). Sekali lagi hanya bisa beli nasi putih, tidak ada menu vegetarian disini, harga 18 bath (seharusnya 20 bath, tapi ada discount).

Kami berencana kembali ke Suk11, dalam perjalanan menuju BTS kami melihat Erawan Shire, jadi kamimampir disini untuk bersembahyang. Tips sembahyang disini, belilah dupa & bunga didalam, jangan beli dari pedagang kaki lima. Karena tidak tahu, dan untuk kepraktisan kami membeli di pedagang kaki lima harga 800 bath, terkejut, tapi kmai tetap membeli. Ternyata harga dupa & bunga didalam lebih murah dibawah 100 bath, OMG.
Sembahyang dari depan kemudian mengitari dari sebelah kiri.
Tempat ini ramai sekali, walaupun sudah jam 10 malam banyak turis dan penduduk lokal yang datang bersembahyang disini.

Setelah itu kami kembali ke Suk 11.
Next to Chiang Mai & Chiang Rai