Kamis, 31 Mei 2012

South Korea trip - Day 1


Kamis, 17 Mei 2012

Korea Folk Village – Sinchon - Banpo Bridge

Mendarat di Incheon jam 06.20 pagi. Langit di Incheon masih gelap.
Karena kondisi masih mengantuk plus kurang bisa tidur karena iringan musik tangisan sepanjang perjalanan, jadi saya tidak begitu memperhatikan kondisi airport.

Incheon airport - dari tempat pesawat landing, kami diarahkan naik kereta +/- 5 menit untuk menuju bangunan induk. Cara ini mirip seperti airport Hongkong.

Sebelumnya kami mampir dulu ke toilet, berbenah, ganti baju, dandan, maklumlah cewek. Selain itu alasan utama karena di Seoul terkenal modis modis, jadi kita kan ga mau keliatan jelek, jadi kudu tampil cakep juga walaupun trip ala backpacker.

Perjalanan ke arah imigrasi mirip atau menurut saya sama persis dengan airport Tao Yuan, panjang, sunyi, view disamping kiri pesawat yang sedang parkir. Antri imigrasi padat, padahal kita sudah dandan setengah jam lebih.

Kartu kedatangan dari pesawat harus diisi selengkap lengkapnya, kalo ga ditolak, disuruh baris kembali untuk mengisi. Disini kami juga diwajibkan untuk finger print dan difoto.

Setelah selesai proses imigrasi, kami turun ke lantai bawah. Dibawah kami sarapan nasi putih yang sudah kami beli di Suria KLCC plus lauk yang kami bawa dari Indonesia.

Teman saya beli kartu telepon dengan harga won 10.000, yang rencananya akan dipakai buat telpon ke Indonesia. Akan tetapi telpon yang dipakai untuk telpon tidak bisa nyambung. Alhasil kartu telponnya tidak terpakai sampai kami pulang kembali ke Indonesia.

Kami naik subway menuju ke penginapan. Karena naik subway jauh lebih murah daripada naik bis. Naik bis dari Incheon menuju Seoul tarif Won 10.000, sedangkan naik subway hanya Won 4.350, plus refund kartu Won 500, jadi tarif  hanya Won 3.850.

Bagi yang punya elektronik android, sangat saya sarankan untuk download Metroid Korea sebagai panduan (Korea Subway).
Program Metroid ini sangat membantu yang bisa memberikan info rute terpendek, tarif, lama perjalanan, berhenti diberapa stasiun.

Oh ya, sebagai panduan saya berpergian ke Korea saya belajar bahasa korea basic yang sekiranya bisa membantu saya. Berikut webnya : http://www.linguanaut.com/english_korean.htm
Semoga bisa membantu.
Kami menginap di Shinchon Hostel, book via booking.com.
Alamat : 90-15 Daehyeon-Dong, Seodaemun-Gu

Menuju ke penginapan bisa ditempuh melalui 2 cara :
  1. Airport bus # 6002, naik dari gate 5B/12A, get off at Ehwa Woman Univ.
  2. Subway dari Incheon change train at Hongik Univ, then continue to Ehwa Women Univ.
Perjalanan dari Incheon ke Ehwa Woman Univ +/- 1 jam, sama dengan naik bus. Hanya saja naik subway lebih terjamin dibandingkan naik bus. Karena naik bis trafic jam tidak bisa diprediksi.
Dari Incheon turun di Hongik Univ, lalu change train to Ehwa Woman Univ, (dalam bahasa korean Ehwa = Idae) hanya 2 stop dari Hongik Univ. Disini kami beli T-Money card. Karena saya tidak tau mesin yang mana yang jual T-Money, jadi saya beli di Kantor Informasi Subway. Kartu T-Money, harga Won 2.500, tidak bisa direfund.


Sekilas info tentang subway di Seoul. Untuk subway lama (subway korea sudah ada sejak tahun 1990 an) – terutama pusat kota, subway tidak pakai eskalator, tangga manual. Untuk stasiun subway baru pakai eskalator.
Apabila bawaan barang banyak, daripada jalan sampe gempor bawa bawaan yang banyak, barang bisa dititipkan diloker (ada di stasiun subway).
Cara titip lihat di : http://www.visitkorea.or.kr/ena/TR/TR_EN_5_1_4.jsp

Saya masuk ke kantor, bertanya ke petugas yang sedang berjaga,
Me :“Annyeonghaseyo, Yong o hal jul aseyo?”
안녕하세요, 영어할 줄 아세요?”
artinya, hallo, bisakah anda berbahasa Inggris?
Officer :“Jamkkanmanyo !
잠깐만요!”
Artinya, sebentar – lalu dipanggilan petugas yang bisa berbahasa Inggris.
Me : “I would like to buy 4 T-Money card”
Info T-money bisa dilihat di : http://www.visitkorea.or.kr/enu/TR/TR_EN_5_4.jsp

Kemudian saya tanya petugas untuk merefundkan card yang saya beli dari Incheon. Ternyata ada mesin khusus untuk refund card, mesin tidak gabung dengan mesin reload T-Money.  Begitu kartu dimasukkan langsung keluar won 500. Tapi saya tidak tau bagaimana cara proses refund, karena yang merefund smua card kita petugas.

Dari Ehwa Subway kami exit dari exit 2, disini sudah tidak ada eskalator, untuk keluar dari Subway harus naik tangga, tapi hanya sebentar. Berdasarkan petunjuk dari Shinchon Hostel kami mencari penginapan, dan menemukannya hanya 5 menit jalan kaki dari subway.

Dalam perjalanan ada seorang cewek yang tau kalo kita turis asing, mungkin liat tentengan koper kita kali, dia mencoba membantu kami untuk menemukan alamat yang kami cari, walaupun saat itu saya tidak bertanya.
Intinya orang Korea baik, mereka bersedia membantu, hanya saja untuk yang tidak bisa berbahasa Inggris mereka menghindar.

Disini untuk yang suka shopping ada Yes@am mall, dan banyak sekali gerai gerai berjualan baju, tas, sepatu, makanan. Dan yang pasti harga barang disini lebih murah, karena lokasi mahasiswa. Sayangnya saya tidak berhasil menemukan lokasi pasar (istilah saya), tempat berkumpulnya para pedagang, mungkin harus jalan sampai ke Ehwa Woman univ, baru keliatan tempatnya. Selain itu juga dikarenakan padatnya aktivitas kami dan waktu yang sangat terbatas.  Tapi disekitar penginapan kami terdapat banyak tempat hang out.
Juga tergantung dari teman jalannya, saran saya cari teman yang fisiknya kuat, yang walaupun sebenarnya sudah gempor, tapi masih mau jalan.

Saya book 2 twin room, harga per room won 60.000.
Fasilitas dalam kamar standar, tempat tidurnya keras (cocok untuk saya, menurut saya bed yang bagus yang keras, baik untuk tulang belakang), AC, Flat TV 32”, kamar mandi dalam (dikamar saya tidak ada sabun or shampo or pasta gigi), handuk disediakan, tapi harus mengambil sendiri, free wifi.

Ada sarapan pagi, buat sendiri, disediakan roti, toaster dan selai strawberi. Ada mie instant ramen, masak sendiri, selesai masak semua perlengkapan memasak harus dicuci. Tidak ada batasan jam memakai dapur. Tidak ada batasan jumlah roti atau mie yang boleh dimakan, juga ada teh dan kopi. Menurut teman saya yang mencoba teh, rasa tehnya aneh.

Diruang makan terdapat 4 komputer bisa on line internet. TV flat ukuran jumbo, game ala korea (saya baru tau ada game menarik ini setelah melihat WGM Adam Couple, waktu 2AM  dan Brown Eyes Girls bertandang ke rumah Adam Couple). Dispenser, bisa juga baca buku, tersedia Harry Potter – English version of course, majalah korea, etc. Menyenangkan tinggal disini standart tapi berasa seperti di rumah sendiri, bebas.

Shinchon hostel ada 2, main building dan second building disebelahnya. Dapur, registrasion semua ada di main building. Pintu entry untuk masuk main building ada 2. Yang satu pintu kaca biasa, pintu ini hanya buka jam 8 pagi sampai jam 11 malam, lebih dari itu lewat security lock door, sama persis dengan pintu pintu yang saya lihat di drama korea.

Kami mendapatkan 2 ruangan di tempat berbeda, yang 1 room di 1st floor at main building, kamar saya disebelah at 2nd floor. No elevator at next building. Tapi pernah baca di internet ada guest yang bilang kalau elevator tersedia mulai lantai 2 keatas.

Pengelola Shinchon Hostel semuanya cowok, English fluently, masih muda and also good looking.
Setelah membayar tapi kami tidak bisa chek in, karena belum waktunya check in (waktu check in jam 2 siang, hanya bisa check in bila ada room kosong), kami titip bagasi dan langsung tancap gas.

Tujuan Pertama Korea Folk Village (KFV) di kota Suwon. Sebenarnya KFV bisa dilihat di Seoul jadi tidak perlu jauh jauh ke kota Suwon.
Di Seoul ada 2 perkampungan kuno korea, yaitu di : Namsangol Village (sebelum naik ke Namsan Tower) dan Bukchon Village. Semua free, tidak ada tiket masuk.
Namun dikarenakan ingin melihat pertunjukkan atraksi serta ingin sekalian mengunjungi Hwasseong Fortress (Benteng kuno), jadi ditetapkanlah pergi ke KFV.

Sebelum saya berangkat ke Korea, saya sudah mengecek di internet prediksi perkiraan cuaca, yang memprediksikan bahwa hari ini di kota Suwon pada siang hari akan turun hujan disertai kilat. Jadi saya sudah siap membawa payung.

Menurut prakiraan cuaca suhu di Seoul dan Suwon berkisar antara 20°C - 25°C. Ukuran cuaca yang cukup dingin untuk penduduk tropis. Walaupun sudah menginjak bulan Mei, tapi masih perlu pakai jaket dan syal (at least for me).

Kami naik subway menuju Suwon station. Sampai di Subway station terlihat iklan Yoo Ah In dan Song Jong Ki, saya tidak tau iklan apa, yang pasti kalau lihat iklan artis pasti saya foto.
Perjalanan ke Suwon station memakan waktu +/- 70 menit, tarif won 1.950 (line biru), change train 1 kali dipersimpangan line biru (saya lupa nama stasiunnya).
Untuk mencapai Suwon bisa juga naik kereta.

Ada 2 jenis kereta, kereta super cepat (KTX train) dan kereta biasa (ada beberapa jenis).
Harga kereta biasa +/- won 2.700 an (duduk, ada juga harga tiket untuk berdiri, lebih murah), sedangkan untuk kereta super cepat bisa won 5.000. Harga, waktu, jenis kereta dan book kereta bisa dilihat di  www.korail.com/en/

Saya sebenarnya ingin naik kereta (yang biasa), hanya saja kalo naik kereta harus beli max 15 menit sebelum train berangkat, selisih waktu +/- 25 menit dengan naik subway. Dan kalau beli online, takutnya waktu tidak bisa tepat, tiket tidak bisa direfund alias hangus.
Mungkin ada bagusnya naik kereta, ga perlu jalan jauh saat change Subway. Subway disini jauh lebih menyebalkan dari Subway di Singapore, apalagi untuk subway tua tempat pusat train, jalannya jauh berkelok kelok and yang pasti gempor.

Sampai di Suwon station kami keluar melalui exit menuju ke Suwon Tourist Information Center (maybe exit 4 – I forgot). Karena disana ada shuttle bus gratis menuju Korea Folk Village. Bus berangkat jam 10.30, 11.30, 12.30, 01.30, 02.30 (warna bis hijau), website KFV  http://visitkorea.or.kr/enu/SI/SI_EN_3_6.jsp?cid=259324

Informasi bus, bisa ditanyakan ke dalam kalau ada perubahan jadwal, juga akan diberikan selembar  kertas sebagai tiket untuk naik bis, dan jangan lupa tanyakan jam kembali bus dari KFV ke Suwon station.

Kota Suwon terasa sekali perbedaannya dengan Seoul.
Di Seoul semua orang yang kami jumpai, penampilan wajah, pakaian, asesoris, semuanya modis, dan enak dipandang, ga peduli cowok or cewek, dijalan atau di stasiun subway. Sedangkan di Suwon, banyak ajuma dan ajeossi, anak mudanya juga tidak begitu stylish.
Tapi yang pasti suhu udara di Suwon lebih digin daripada di Seoul.

Bis berangkat on time, perjalanan menuju KFV +/- 30 menit.
Kami naik bis pukul 12.30. Bisa juga ditempuh dengan bis lokal no : 10-5 atau 37.

Sampai tujuan beli tiket di loket tarif Won 15.000 per orang.
Entah ada acara apa, banyak sekali siswa sekolah waktu kami sampai di KFV. Didalam KFV ada area bermain untuk anak anak, tapi tidak menyenangkan untk dinaiki buat saya, karena permainan itu untuk anak anak. Untuk turis asing hanya sedikit saja, mostly from Japan.

Kami masuk ke tempat wahana anak anak bermain, tidak ada yang bagus, hanya ada beberapa spot yang menarik untuk difoto. Kemudian kami pindah ke perkampungan kuno korea. Tempat ini tidak lah begitu besar seperti yang digembar gemborkan, kemanapun kami pergi kurang lebih bangunan yang ditemui sama.


Salah satu teman saya ingin ke toilet, dan jangan tanyakan ke anak sekolah Bahasa Inggris, mereka tidak bisa bahasa Inggris. Tidak terlihat sign toilet dan rata rata orang disana penduduk asli and can’t speak English. But it’s ok, cara ke toilet :
Me : “Jwisongeyo, hwajangsil i odiyeyo?” artinya : Toilet disebelah mana?
Diantarlah kita ke toilet.

Langit mulai mendung, kamipun berpindah ke area perumahan kuno. Benar saja mulai gerimis. Kamipun cepat cepat mencari tempat yang untuk berteduh. Disini ternyata yang bawa payung hanya saya saja, yang lain tidak, jadi 2 orang teman saya kehujanan. Persis seperti perkiraan cuaca hujan deras disertai kilat.

Kami berlari mencari tempat berteduh. Sampailah kami ditempat foto, foto dengan kostum kerjaan plus asesoris rambut, per orang dikenakan won 20.000 untuk 1 lembar foto. Karena mahal, tidak cocok dengan gaya backpacker kita, jadi kita lewatkan acara foto.

Hujan turun deras sekali, kami pindah berteduh di toko souvenir disebelahnya. Siswa siswa sekolah, tampaknya sudah siap, banyak yang memakai jas hujan, payung, tapi ada juga yang berhujan ria.
Barang barang di toko souvernir tidak begitu menarik. Barang barang yang dijual, pembatas buku, sumpit, sendok, gingseng, kerajinan korea, dan yang pasti harganya mahal.

Kami berteduh sampai hujan reda, masih gerimis rintik rintik, bubar sudah keinginan untuk melihat atraksi atraksi, karena hujan, saya tidak tau apakah masih ada pertunjukkan atau tidak. Kami menyempatkan untuk berfoto dengan seorang ajuma yang memakai kostum Hanbok.

Rencana selanjutnya ke Hwasseong Fortresspun terpaksa dibatalkan. Karena planning saya mengelilingi Hwasseong Fortress by train, harga won. 1.500 (30 menit), tapi kereta tidak beroperasi bila hujan. Setelah hujan reda apakah train beroperasi atau tidak saya juga kurang tau. Hwasseong Foretress – Benteng kuno yang masuk dalam Unesco. Jalan kaki keliling benteng untuk kaki yang sudah gempor, sepertinya tidak memungkinkan.

Juga disebabkan teman saya sudah tidak tertarik, yang sebetulnya menurut saya sayang sekali sudah bayar mahal tapi tidak eksplor ke seluruh tempat KFV. Seandainya tau begitu saya tidak mengunjungi Suwon, tapi lihat perkampungan kuno di Seoul saja, jadi tidak membuang buang waktu percuma.

Apabila ingin pergi ke Hwasseong Fortress, dari KFV naik Free Shuttle bus or bus no 37 dari 7-11 bus stop kembali ke Suwon station.
Kemudian ganti naik bis no. #11, 13, 36, 38, 39, menuju ke Paldamun Gate. Sampai di Paldamun gate bisa melihat istana Hwaseong Haenggung (menurut informasi disini tempat syuting film The Moon that Embrance the sun), setelah itu bisa berjalan ke belakang istana lalu naik kereta keliling benteng.
Jangan lupa untuk mengunjungi Banghwasuryujeong Pavilion dan Jang an Park.

Ok back to our story......
Kami menunggu shuttle bis menuju ke Suwon Station, setelah berjalan ke sana kemari, kami tidak menemukan bisnya, akhirnya kami masuk ke Information Center dan menunggu bis disana. Seharusnya kami bisa kembali naik bis jam 14.30, akan tetapi  karena keasikan duduk jadi terlewat bisnya.
Kami disarankan untuk naik bis lokal no 37, naik dari depan 7-11 menuju Suwon Station.

Karena teman saya sudah down duluan, akibat diberitahukan temannya yang sudah pernah mengunjungi Korea mengatakan kalau di Korea tidak ada yang bagus, akibatnya perjalanan jadi tidak seru, karena dia malas mencoba.
So, next time choose the right friends for travelling ala backpacker.

Kami naik bis no. 37, turun di Suwon station langsung menuju ke Subway. Suwon subway station letaknya persis disamping Ak Suwon mall, jadi dengarkan saja informasi didalam bis. Kira kira 25-30 menit dari KFV menuju ke Suwon Station.
Bis berhenti di sebrang plaza, jangan menyebrang jalan dari jalan raya, tapi turun melalui tangga disamping bis stop menuju ke sebrang.

Masuk ke subway station melalui banyak pertokoan, kalu mau beli biskuit or snack korea tempat ini murah, silahkan beli cemilan atau oleh oleh di sini. Saya beli roti (seperti mantau) isinya madu. 1 pak isi 10, harga 1 pak won 1.500, also earing harganya hanya won 1.000 di depan GS 25 Store.

Next destination makan di Shinchon – Loving Hut (Vegan).
Untuk teman teman non vege mereka sudah makan tteokbokki, dan siomay won 3.000 (saya tidak tau apa namanya, kalau di Indo disebut kekian, dan mereka sudah kenyang karena makan itu) di KFV, harga tteobokki won 2.000. Menurut teman saya rasanya pedas sekali, dan tidak bisa dimakan sampai habis.

Sampai di Shinchon station take exit 2, kami berjalan lurus saja, sampai ujung jalan, terdapat Loving Hut, disebelah kiri jalan. Letak Loving Hut disebelah Starbuck cafe dan didepannya ada gereja.

Saya pesan jajangmyung (black noddle), harga won 4.500.  Menu yang satu ini layak untuk dicoba.
Di Loving Hut banyak menu, ada ice cream, ada waffle, all delicious, sayang saya tidak bisa mencobanya. Akibat menu yang diorder teman saya terdapat bawang, dan teman saya tidak makan bawang, jadi kita yang menghabiskannya berramai ramai.
Saya pesan minuman tidak beralkohol, seperti yang diminum Soehyun (di WGM), harga won 1.000.

Setelah itu kami ke toilet di dalam gereja hehehehe...... soalnya tidak ada toilet didekat Loving Hut. Dilanjutkan cari Etude cosmetic, karena ada teman yang nitip, plus saya juga mencari kosmetik Etude.
Jalan putar kesana kemari, kami tidak menemukan counter Etude, akhirnya kami putuskan untuk menyudahi acara windows shopping, dan langsung menuju ke Hangang Park.

Saat on the way ke Subway station, ternyata letak counter Etude dekat dengan Subway station, hehehe.... perjalanan kali ini gempor abis, baru hari ke 1, sudah banyak membuang tenaga.

Kami langsung mencari manager in charge hari itu dan minta discount or special price plus sample product (kemaruk abis, kesempatan gitu...).
Akhirnya setelah teman saya nego dengan manager toko, diputuskan kami mendapatan discount 15% plus sample product (masker wajah).

Akibatnya saya borong, Lip gloss, bedak, masker wajah green tea, masker mata, eye liner. Waktu bayar saya diberi tas kosmetik plus masker wajah lagi.
Mungkin karena teman saya borong banyak jadi bisa dapat disc sampai 15%, itupun karena dia dapat titipan barang.

Oh ya, penjaga toko bahasa Inggris sangat terbatas, disana saya menggunakan bahasa mandarin. Bahasa mandarin dalam bahasa korea : Jung guk.

Langit sudah mulai gelap, kami melanjutkan perjalanan terkahir untuk hari ini yaitu ke Hangang Park – Banpo Bridge rainbow show. Jembatan tercantik yang tercatat dalam Guiness book of record.

Satu hal yang sangat tidak saya sukai di Korea, subway stationnya seperti di Singapore, banyak belokan, mengakibatkan kaki gempor kebanyakan jalan saat exchange subway. Padahal sudah minta petunjuk untuk naik Subway dengan change station sesedikit mungkin.
Menurut saya lebih baik naik taxi, walaupun pergi hanya 2 orang saja. Semahal mahalnya taxi disana yang pasti masih terjangkau, kecuali kalau keluar kota atau ke pulau yeoido, naik subway saja.

Or cari alternatif berpergian by bus saja. tidak usah naik turun subway, tapi perhatikan juga, apakah bus stopnya dekat atau tidak.

Sampai di Express bus terminal exit 8-1, subway terdekat dengan Banpo bridge. Ternyata harus jalan kaki jauh sekali. Mungkin untuk ukuran orang luar negri yang notabene dari kecil sudah jalan kali ke mana mana tidaklah jauh. Tapi buat orang Indo (buat saya kali lebih tepatnya), jauh banget and gempor.

Dari exit Subway, kami bertemu dengan cewek yang bahasa Inggrisnya pas pasan, tapi bisa memberikan penjelasan arah yang baik. Jadi kami mengikuti petunjuknya.
Exit Subway 8-1, jalan sampai ujung jalan lalu belok ke kanan, jalan lurus saja, sampai menemukan papan petunjuk ke Banpo Bridge.
Setelah itu turun tangga, ikuti lorong, sampai menemukan tangga kecil didalam lorong. Turun di turunan tangga ke dua, lalu ikuti jalan sampai menuju ke jalan raya. Akhirnya sampailah di parkiran mobil Sungai Han.

Sama sekali tidak tampak Banpo bridge, lalu bertanya kembali kepada orang lokal, (orang kantoran) arah menuju Banpo bridge. Ternyata dari sana kami masih harus menyebrang jalan, menuju ke sisi sebelah kiri jembatan. Karena rainbow show hanya ada di 1 sisi jembatan saja,

Keinginan untuk melihat show 2x hanya bisa menjadi 1x saja, akibat jalan kaki yang terlalu lama menuju ke Banpo park.
Jadwal Rainbow show setiap musimnya berbeda beda, bisa dicek di : http://www.visitkorea.or.kr/enu/SI/SI_EN_3_1_1_1.jsp?cid=1011983

Sayangnya kami tidak mempunyai waktu yang cukup untuk naik kapal disana. Harga tiket won 11.000.
Tapi kata orang tidak ada bagus bagusnya naik kapal keliling 6 jembatan di Sungai Han, hanya terlihat lampu lampu, ditambah lagi cuaca yang dingin jadi malas berdiri di dek kapal.

Pukul :  21.00 Rainbow show dimulai, setiap pertunjukkan 15 menit.
Jadwal pertunjukkan weekday dan weekend tidak sama. Untuk weekend lebih panjang jadwalnya.
Sayang sekali kamera saya tidak bagus, ditambah lagi teman saya yang sudah gempor, yang malas duduk dipinggir sungai. Jadi kurang bisa dapat gambar yang bagus.


Melihat ini, saya jadi teringat saat Yongseo couple (WGM) naik taxi air, kembali ke rumah mereka setelah selesai mengkompose lagu Banmal Song, dari apartement CN Blue.

Selain Banpo Bridge, tempat lain didekat sini yang bisa didatangi Apgeujong (Beverly hill ala Seoul), tempat artis korea hangout. Selain itu juga ada Sinsa dong, tapi kami tidak pergi ke dua tempat itu, karena sudah gempor abis.

Mungkin karena cuaca dingin jadi tidak begitu banyak yang melihat pertunjukkan ini. Setelah selesai melihat pertunjukkan kami berencana untuk kembali naik taxi saja, tapi tidak ada taxi yang lewat. Hanya taxi warna hitam (mercedes benz) yang terlihat – as I know avoid thix taxi, it’s really expensive.
Jadi kami kembali melalui jalan yang sama kembali ke subway staion naik subway kembali ke penginapan. Sampai di penginapan sudah jam 11 malam.

Mandi, saya sempat melihat TV sebentar tentang cara make over wajah. Setelah itu tidur.

That’s all my 1st day trip at South Korea, not too interest (pitty me, skip Hwasseong Fortress dan cuma mampir bentar ke KFV).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar