Sabtu, 03 September 2011

Taman Wisata Iman, Air Terjun Sipiso Piso, Taman Alam Lumbini, Hill Park

Kamis, 1 September 2011

Hari ini kami bangun pagi, walaupun tidak ada hot water air tidak terlalu dingin. Breakfast nasi goreng plus telor (untuk family room, breakfast tersedia untuk 4 orang). Karena saya vegetarian, mama minta pihak hotel memasakkan mie instant (mie kami bawa sendiri), dan pihak hotel bersedia (Thank you ^^).

Jam 07.40 kami berangkat, sebelumnya kami mampir dulu di penginapan terdekat dengan Hotel Tiga Besar (Damiang kalau tidak salah). Dari sini pemandangan danau Toba sangat cantik. Usahakan pagi pagi datang kesini, karena kalau sinar matahari sudah terik, hasil foto kurang bagus.
Toba Lake view in the morning
I Like this cloud
Nelayan lagi nangkap ikan sama anaknya

Setelah puas bernarsis ria, perjalanan dilanjutkan ke Taman Wisata Iman - Dairi, Sidikalang. Perjalanan ke Sidikalang melewati bukit, sepanjang perjalanan disuguhi pemandangan yang luar biasa. Jarang sekali bisa lihat pemandangan sebagus ini.

Kami menaiki bukit, karena letak Sidikalang dibalik bukit. Jadi perjalanan dari bawah bukit naik sampai atas bukit, trus balik jalan menuruni bukit menuju Sidikalang. Saya juga heran kenapa jalannya harus menanjak sampai ujung bukit, trus memutar ke belakang bukit.

Buat yang suka mabok perjalanan, saran saya sebelum naik keatas minum antimo dulu dibawah, kalo ga - dijamin mabok.

Menara Eprata - Tourist Center (tapi sepi)
Diujung bukit ada rumah persinggahan, tempat peristirahatan Rumah Eprata. Dari sini pemandangan sangat bagus, terutama pagi dan sore hari (saat sinar matahari belum terik).

Dirumah Eprata ada depot mini, dan ada rumah posko (begitu saya menyebutnya, karena rumah tersebut seperti pos, tapi dipinggir jurang). Untuk masuk kedalam pos ini harus membayar Rp. 2.000. Pemandangan danau toba sangat bagus diambil dari ujung bukit ini (saya tidak singgah ke pos ini), hanya mampir ke toilet dan isirahat sebentar saja.

Pohon unik pinggir jalan
Dari Pagururan ke Dairi - Taman Wisata Iman (TWI) memakan waktu 3 jam (tidak macet). Setelah keluar dari kabupaten Samosir, memasuki kabupaten Dairi, banyak jalan berlubang, hati hati bila berkendara.

Penduduk disini bercocok tanam, hanya ladang dan sawah yang saya lihat sepanjang jalan (lebih bagus pemandangan di kabupaten Samosir, dibanding kabupaten Dairi). Rumah penduduk juga masih rumah kayu, bahkan ada yang rumah panggung, jarang sekali rumah tembok.
Pukul 11.00 kami sampai di Taman Wisata Iman. Sebelum masuk ke TWI ada pemandangan air terjun mini, lebih bagus difoto saat perjalanan pulang. Karena saat masuk ke TMI air terjun terhalang oleh papan, sehingga hasil kurang maksimal.

Vihara Saddhavana (Tampak depan)
Tiket masuk ke TWI per orang Rp. 5.000 (dewasa), Rp. 3.000 (anak anak), Rp. 5.000 (kendaraan roda 4).

Jangan lupa pakai sunblok dan bawa payung (it's very very hot).

Pertama kami mengunjungi Vihara Saddhavana. Rupanya saat saya datang berkunjung sedang ada kelas meditasi. Suasan hening sekali. Jadi kami juga tidak berani mengeluarkan suara. Untuk masuk kedalam harus melepaskan alas kaki (seperti masuk kuil di Thailand).

Untuk masuk kedalam toilet harus melepaskan alas kaki, ganti dengan sandal jepit yang sudah disediakan ditoilet. Saya berjumpa dengan biksuni perempuan, dari parasnya sangat cantik dan masih muda, kira kira berusia 20 tahunan.
View samping kiri Vihara (teduh)

Suasana sekitar juga sangat tenang. Disamping vihara ada rumah pondok (begitu saya menyebutnnya), seperti pondok mini, tempat tinggal para biksu/biksuni. Dibagian bawah (belakang vihara), terletak dapur.
Ada beberapa petugas vihara tampak sibuk menyiapkan hidangan. Disini yang memasak pria kebanyakan.

Kami disini hanya setengah jam, selajutnya masuk ke Taman Wisata Iman. TWI merupakan kisah Alkitab yang dikisahkan dalam bentuk replika patung, mulai dari Nabi Abraham mempersembahkan anaknya, Nabi Musa menerima 10 perintah Allah, sampai perjanjian baru kelahiran Yesus di Betlehem, disalibkan, dan bangkit dari kubur.

Akan tetapi karena rombongan sudah cape dan lapar, jadi saya hanya sampai tempat Yesus disalibkan. Jalan naik tangga (maklum dibukit) plus matahari terik dan lapar, membuat rombongan malas melanjutkan.

Tempat yang paling berkesan disini, kandang Betlehem, Goa Maria, dan tempat Yesus disalibkan.
Rata rata replika ini merupakan sumbangan dari perusahaan atau orang pribadi. Disamping replika patung tertulis pihak pihak yang memberikan sumbangan .

Banyak gereja yang melakukan kunjungan ke tempat ini, mereka juga meletakkan papan nama mereka ditempat ini.
Replika Kandang Betlehem

Goa Maria


Replika Tempat Penyaliban
Lanjut ke air terjun Sipiso  Piso, air terjun ini mini banget ukurannya menurut saya, hanya ketinggiannya tinggi. Untuk sampai kebawah perlu menuruni ribuan anak tangga (OMG!!!) - I'm not do that's. Disini hanya sebentar, beli baju (menurut saya disini murah), jangan lupa untuk menawar.

Banyak wisatawan dalam negri piknik keluarga disini. Ada juga rombongan  anak anak muda yang bernyanyi sambil memetik gitar. Suasana bebas, terserah mau ngapain juga boleh sepanjang tidak menggangu kepentingan umum.

Foto yang saya upload disini merupakan spot pengambilan gambar terbaik yang bisa saya temukan, karena dari sisi yang lain air terjun tidak tampak.

Perjalanan dilanjutkan ke Brastagi - Taman Alam Lumbini. Dari air tejun Sipiso Piso kurang lebih 2 jam-an. Orang Brastagi atau Sumatra Utara menyebut tempat ini Pagoda Thailand.
Taman Alam Lumpini - Brastagi
Mungkin disebut begitu karena bangunan pagoda ini mirip dengan bangunan kuil di Thailand. Ukiran ukiran dan pose patung diluar gedung mirip dengan kuil yang saya lihat di Bangkok. Menurut info dari bapak sopir tempat ini belum diresmikan, baru selesai dibangun Oktober 2010, rencana akan diresmikan oleh bapak presiden.

Jalan menuju tempat ini sangat tidak rata, berlubang lubang. Pihak pemkot harus segera memperbaiki jalan menuju tempat ini. sangat banyak wisatawan datang berkunjung ke tempat ini.

Karena didalam rombongan ada anak kecil jadi kami mengunjungi Hill Park (Sibolangit), kawasan bermain seperti Dufan (lebih besar Dufan). Wahana wahana juga jauh lebih bagus dan menantang di Dufan.

Hill Park - Sibolangit

Hill Park Sibolangit

Hill Park - Sibolangit
Dari Taman Alam Lumpini ke Hill park memakan waktu 20 menit. Tiket masuk Rp. 20.000, untuk anak dibawah 1,5 tahun dan orang tua diatas 60 tahun gratis. Sedangkan tiket terusan Rp. 60.000 - tapi tidak semua wahana, ada beberapa wahana yang harus bayar. Jadi saran saya beli tiket masuk saja, nanti lihat didalam mau main apa baru bayar. Karena wahana yang seru semua harus bayar.

Tidak boleh membawa makanan dan minuman masuk disini, tapi sewaktu saya masuk tidak diperiksa, jadi mungkin kalau bawa roti dan air minum bisa dimasukkan ke dalam tas.
Tiket masuk juga mendapat minuman teh kotak.

Konsep Hill Park seperti taman bermain diluar negri, ada bangunan kastil dan interiornya juga cantik. Kami sampai disini jam 4 sore lebih. karcis masuk untuk parkir mobil Rp. 3.000.

Waktu kami sampai disini sudah ada pengunjung yang pulang, tapi tempat ini masih saja ramai. Didalam juga tidak begitu antri, mungkin karena masih hari raya H+1.

Info yang saya dapat Hill Park buka sampai jam 8 malam. Tapi jam 7 malam, sudah banyak pengunjung yang pulang. Untuk vegetarian di food court bisa makan burger vege, saya tidak mencobanya. Karena di taman Alam Lumpini sudah membeli kue lobak. Di Taman Alam Lumpini pembelian makanan harus per porsi, tidak bisa beli 1 atau 2 potong.
Hill park at Night


Karena hujan gerimis, kami memutuskan untuk kembali. Perjalanan kembali ke Medan, seharusnya bisa ditempuh dalam waktu 2 jam, menjadi 3 jam. Karena macet, bukan karena banyak kendaraan yang melintas, tapi lebih disebabkan karena pengendara yang tidak sabar, memotong jalan mengambil jalur kanan (hanya ada 2 jalur), dan jalan yang tidak rata.

Sampai di Medan jam 21.30 malam. Cape banget - perjalanan ini hanya sebentar saja ditempat wisata, tapi perjalanan menuju tempat wisata lamaaa banget. Pemerintah harus memikirkan sarana untuk menuju tempat wisata. karena potensi wisata disini besar, akan tetapi prasarananya tidak memadai.

Tomorrow back to home town, Surabaya.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar